Sapi vs Penggembala: Siapa Yang Berhak Mengendalikanmu?

Sore yang hangat di lingkungan pedesaan tempat tinggalku.

Suara gaduh mengagetkanku diatas motor. Aku menoleh, segerombolan Sapi Benggala berderap gagah memonopoli jalan kecil itu. Kaki – kaki besar mereka nampak tegas menghantam tanah, bersama lenguhan yang liar serta hembusan nafas yang menakutkan. Anak – anak kecil berlari kedalam rumah, meninggalkan sepeda roda tiga mereka di pinggir jalan.

Aku segera menepi sejenak, membiarkan hewan – hewan itu lewat. Sambil menunggu, dalam hati aku mengira pastilah butuh orang – orang yang kekar dan kuat untuk mengatur gerombolan Sapi ini.

Tiba – tiba seorang kakek yang nyaris bertubuh bungkuk menyapaku dengan seulas senyum, aku melongo, bukan karena melihat tangannya yang gemetar dan wajahnya yang amat keriput. Tapi aku tidak percaya, ternyata dialah orang yang menggembala segerombolan Sapi ini!

Aku menggaruk kepala keheranan, bahkan anak bebek saja kukira tidak akan kaget mendengar suara kakek itu, tapi apa yang kulihat? Cukup satu dua gertakan dari mulut kakek itu sudah membuat gerombolan Sapi itu terbirit – birit dan merapatkan barisan.

Ada apa kalian wahai Sapi!? Satu saja dari kalian menyeruduk kakek itu, aku jamin dia tidak akan bisa bangkit lagi, mengapa kalian malah takut? Kurang lebih itulah yang ingin kukatakan pada gerombolan hewan itu.

Sulit bagiku untuk percaya peristiwa itu, tiada kurenungi begitulah yang terjadi jika orang lain mengendalikan kita.

***

Di luar sana, banyak kutemui anak – anak muda yang memiliki banyak potensi dan kekuatan yang luar biasa. Mereka punya ribuan kesempatan, dukungan, dan harapan dari orang – orang yang dia cintai.

Tetapi apa yang mereka lakukan? Mirisnya, tidak ada.

Aku pernah mengobrol dengan salah satu teman yang memiliki masalah yang sama. Setelah ngobrol kesana – kemari, kulihat dia dibayangi oleh ketakutan yang tidak jelas arahnya, senang menjadi orang kebanyakan, dan terus berusaha merangkai jutaan alasan yang tidak masuk akal. Ujung – ujungnya, dia mengutuki kehidupan sendiri dan mengelu – elukan kehidupan orang lain.

Takut itu manusiawi, namun takut menghadapi diri sendiri, itu menggelikan.

Jika kita hidup tanpa ada gairah, tanpa tantangan, tanpa daya juang, serta melupakan segala kekuatan dan kehebatan kita. Apa bedanya kita dengan seekor Sapi yang besar, kuat, dan garang, tapi tidak berdaya dengan pengemba tua?

Percaya atau tidak, kita bisa menghidupkankan kembali pandangan dari fikiran kita bahwa kita tidak kecil, kita hebat, dan kita bukan orang biasa – biasa saja.

Jika kita melakukannya, ketakutan itu akan hilang, dan seperti layaknya seorang penggembala, kita tidak akan pernah dikendalikan, sebaliknya kitalah yang mengendalikan diri kita sendiri.

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!