Segores Kisah Tentang Pejuang Ilmu

Aku tidak bisa menahan senyum dengan tingkah polosnya, melihat dia canggung di depan lensa kamera, membuatku tak berhenti menepuk bahunya memberi semangat. Hari ini, seolah malaikatpun takjub akan rencana Allah, sehari penuh kehidupannya di abadikan dalam sebuah Program Televisi. Dengan harapan mampu menyebar inspirasi dan menuai sejuta manfaat bagi orang lain.

Kali ini, kita akan mengupas lebih dalam tentang sosok dia.

***

Dahulu ia terkenal pendiam. Lahir dari keluarga kurang mampu memaksanya menutup diri pada dunia. Ibunya seorang Ibu rumah tangga, sedang kakak dan ayahnya hanya penjual jajanan es di Sekolah dan depan rumah.

Dianggap sering tak memahami pelajaran, kerap membuat dia disebut anak aneh bahkan bodoh oleh guru dan teman – teman Sekolahnya. Tubuh kurus tinggi, dibalut kulit sawo matang khas Indonesia, dan punya senyum lebar bersama jejeran gigi. Itulah dia, sahabat kami, Sani.

Sejak ia bergabung bersama keluarga besar SAMERA. Sani yang dulunya pemalu, yang cuma mampu mengeluarkan satu – dua kata, dan mengangguk – angguk, berubah menjadi anak yang riang dan gigih.

Tiap pagi ia datang paling awal. Lantunan ayat – ayat suci Al-Qur’an mengalir dari mulutnya, mengawali paginya di atas pondok – pondok kelas yang sejuk dan asri. Dengan lingkungan Sekolah luas yang membebaskan siswanya untuk bereksplorasi dan berekspresi, serta teman dan guru yang saling mendukung dan memahami. Membentuk Sani menjadi anak yang ulet dan pantang menyerah.

Meski ia tahu masih harus banyak belajar tentang Qur’an, akan tetapi semangatnya itu melebihi anak – anak lain. Mungkin logika berfikirnya dalam beberapa hal sedikit lambat, tapi jangan tanya kemampuan ingatannya. Uletnya Sani menghafal ayat – ayat Allah, nafas resahnya ketika berusaha mengulang huruf demi huruf agar ‘lengket’ di fikiran, dan bahagianya ia ketika berhasil menyetorkan hampir setengah halaman setiap harinya. Benar – benar membersihkan segala pandangan buruk kita tentang satu hal, bahwa masih ada generasi muslim potensial bangsa di tanah air ini.

Sani tidak pernah pergi ke Sekolah dengan kendaraan bermotor. Ya, dia menempuh jarak puluhan kilometer dari rumahnya (Medan Krio) hingga ke lokasi Sekolah (Tuntungan 1, Deli Serdang), hanya bersama sepeda Onthel tua yang ringkih dan karatan. Melewati jalan curam dan berbatu, di hujani debu dan asap knalpot. Itulah yang dilalui Sani setiap harinya.

Terkadang jika sepedanya rusak, ia harus berjibaku di bahu jalan bersama  bau oli dan besi. Panas terik dan juga rintik hujan dia lalui dengan sepenuh hati. Demi satu tujuan sederhana, yang bahkan terlupakan oleh anak – anak yang punya segala kemudahan dan fasilitas diluar sana. Menuntut ilmu.

Syukurlah beberapa bulan yang lalu, hatiku yang tergerak untuk meringankan beban Sani dengan mengajukan proposal kepada orang tua murid demi membeli Sepeda yang layak untuknya, menemukan titik terang.

Seorang dermawan yang kagum dengan semangat dan ketulusan Sani menuntut ilmu, berbaik hati menyisihkan sedikit rezekinya untuk membeli Sepeda Gunung, serta menghadiahinya Jaket dan penutup ransel.

Allah menetapkan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Itu artinya setiap insan di dunia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin atau generasi yang mampu menggerakkan juga mengubah dunia ini menjadi lebih baik. Tak terkecuali Sani. Aku benar – benar bahagia melihat wajah Sani kala itu, lebih bahagia lagi ketika mendengar sebuah perusahaan TV lokal tertarik meliput sang pejuang ilmu itu dalam salah satu program mereka.

Seketika aku teringat akan kalimat yang aku sendiri lupa kapan aku membacanya.

“Mendapatkan ilmu itu sulitnya bukan main, kecuali kau menggodanya dengan ketulusan dan ketekunan”.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!!

Comments are closed.