Semua Orang Tua Akan Menjadi Guru Pada Waktunya

Ki Hajar Dewantara, Tokoh Pendidikan Nasional

Oleh: Azzam Habibullah (Mahasiswa At-Taqwa College Depok) — DI TENGAH wabah virus Covid-19 yang kian mengganas di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah mengeluarkan surat edaran pada 17 Maret 2020 untuk memulai masa ‘belajar di rumah’ bagi para siswa/i di seluruh tanah air. Kebijakan ini seolah menjadi dua sisi koin yang berbeda. Sebagian orang merasa bahwa ini adalah angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia. Namun bagi sebagian yang lain, terutama orang tua, kondisi ini justru menjadi pemicu kehebohan. Terbiasa lepas tangan dengan pendidikan anak di Sekolah, membuat banyak orang tua kini mulai kerepotan dan kebingungan dalam mendidik anaknya sendiri di rumah.

            Dalam rangka memperingati 109 tahun Kebangkitan Nasional, pada April 2017 Museum Kebangkitan Nasional menerbitkan sebuah buku, berjudul “Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya.” Sebagai tokoh pedididikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara dikenal akan jasanya dalam mendirikan Taman Siswo, yang merupakan salah satu titik balik dari gerakan kebangkitan bangsa. Dikisahkan dalam buku ini, tepat pada 3 Juli 1922, melalui rapat pendirian Taman Siswo, Ki Hajar Dewantara mengukuhkan tujuh prinsip pendidikan, yang berbunyi: 1.) Hak menentukan nasib sendiri, 2.) Siswa yang mandiri, 3.) Pendidikan yang mencerahkan masyarakat, 4.) Pendidikan yang mencakup wilayah yang luas, 5.) Perjuangan menuntut kemandirian. 6.) Sistem ketahanan diri, dan 7.) Pendidikan anak-anak.

            Definisi dari ketujuh prinsip ini, dijelaskan dalam buku tersebut, dapat dikatakan sebagai penanaman nilai-nilai kemandirian dan nasionalisme. Di mana poin yang bisa disimpulkan, adalah bahwa Taman Siswa ingin mewujudkan pendidikan yang memerdekakan masyarakat Indonesia dari sistem pendidikan kolonial yang mengekang mereka. Menurut Ki Hajar Dewantara, untuk mengembangkan akhlak, jiwa, dan raga anak-anak Indonesia, perlu ada sistem pendidikan yang selaras dengan budaya di Indonesia, sehingga bangsa ini mampu bertumpu pada kemampuannya sendiri dan saling membantu satu sama lain.

Buku Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya

Akan tetapi, Ki Hajar Dewantara mengingatkan, bahwa pusat pendidikan utama bukanlah Sekolah, melainkan keluarga. Dalam pandangannya, Ayah dan Ibu merupakan pendidik anak yang paling utama, sebab keluarga adalah pusat pendidikan alami. Kendati Taman Siswa atau Sekolah, diartikan beliau sebagai lembaga yang tampil sebagai “keluarga yang suci,” namun tetap saja pada dasarnya ia berbeda, dan tidak dapat dipisahkan dari keluarga alami tersebut.

Konsep ini menarik. Karena dengan ini bisa dikatakan, bahwa perjuangan Ki Hajar Dewantara di dunia pendidikan bukanlah membangun ‘Sekolah’, melainkan membangun pandangan yang benar terkait pendidikan di Indonesia. Ketika Ki Hajar Dewantara, menyampaikan pesannya yang terkenal, “Ing Ngarso Sung Tuludo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberikan daya kekuatan), pesan ini mungkin bukan semata-mata diperuntukkan bagi setiap guru di Sekolah, tapi juga orang tua sebagai bagian integral dari pendidikan. Sebagaimana yang telah diterbitkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 30 tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggara Pendidikan.

Oleh karena itu, kondisi para orang tua yang saat ini kerepotan menangani pendidikan anak-anaknya, mengindikasikan bahwa pendidikan Indonesia saat ini tidak lagi mengilhami konsep yang telah dibawa Ki Hajar Dewantara, maupun mengikuti apa yang telah di amanahkan dalam Peraturan Menteri tersebut. Sadar maupun tidak, ‘pendidikan’ sebagaimana yang telah di jelaskan oleh Dr. Adian Husaini, salah seorang tokoh pendidikan nasional, telah disempitkan maknanya menjadi sekedar wilayah bernama ‘Sekolah’. Akibatnya, peran orang tua dikesampingkan, bahkan ditiadakan dalam proses pendidikan anak. Sehingga seiring berjalannya waktu, orang tua yang seharusya menjadi pusat pendidikan alami, menjadi orang-orang yang paling kalap di tengah kondisi di mana ia mesti menjadi guru bagi anak-anaknya.

Maka tak heran, anak-anak yang memiliki orang tua yang tidak siap untuk membimbing, ditambah lagi terjebak dalam pandangan bahwa hanya di sekolah tempat ia menuntut ilmu, di saat yang sama mulai kebingungan mencari cara untuk belajar di situasi seperti ini. Padahal, pendidikan Indonesia semestinya menanamkan kemandirian, sehingga di samping memberikan pengetahuan yang diperlukan, penting bagi guru untuk mendidik siswa terlatih mencari sendiri pengetahuan itu dan memanfaatkannya dengan baik. Jika kini siswa-siswi di Indonesia masih lalai dengan aktivitas yang tidak bermanfaat, itu menunjukkan pendidikan di Indonesia masih kurang efektif mendidik mereka menjadi pembelajar mandiri. Sesuai dengan apa yang dicanangkan Ki Hajar Dewantara dalam prinsip pendidikannya.

Untuk itu Dr. Adian Husaini, dalam bukunya Kiat Menjadi Guru Keluarga mengatakan bahwa dalam persepektif Islam saja, pendidikan anak pada dasarnya menjadi tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab sekolah. Beliau mengutip firman Allah yang berbunyi,“Hai orang-orang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu…” (At-Tahrim [66]: 6). Dari ayat ini jelas bisa dilihat, betapa Allah secara khusus mewajibkan orang tua untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Rasulullah juga mempertegas perintah itu dengan sabda beliau, “Hak anak atas orang tuanya adalah memberi nama yang baik, memberi tempat tinggal yang baik, dan memperbaiki adabnya. (HR. Al-Baihaqi).

Dr. Adian Husaini menyampaikan, bahwa memperbaiki adab anak, atau dalam artian memberikan pendidikan yang benar adalah kewajiban orang tua terhadap anak. Karena sejatinya adalah hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuanya, baik pendidikan fardhu a’in maupun fardhu kifayah.  Yang kelak membuatnya siap sebagai orang yang berilmu dan beradab, untuk menghadapi kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Wallahu ’alam bi al-sawab.

Pancur Batu, 5 Maret 2020