Sendiri Itu Menyakitkan

Aku di dalam Trem di Istanbul, Turki

Tadi pagi aku iseng membaca lagi tulisan-tulisan lamaku di Fan Page Penulis Narsis Dot Com. Bagi yang belum tahu, jauh sebelum ‘rumah onlineku’ azzamhabibullah.net muncul di dunia maya, beragam platfrom media sosial kugunakan untuk mempublikasi tulisan-tulisanku. Berawal dari catatan Facebook di tahun 2013, aku beralih ke Fan Page, kemudian membuat beberapa web gratisan dengan banyak nama, demi menampung hasrat menulisku yang kadang naik-turun tak keruan.

Salah satu tulisan yang berhasil membuatku tidak habis fikir, adalah “WELCOME TO JAKARTA  1 dan 2”. Kisah pertama kalinya aku naik pesawat sendirian ke Jakarta pada akhir tahun 2014. Diksi yang kaku nan alay, ditambah intro dan ending yang asal nyablak, tak henti membuatku tergelak sendiri, hampir tak percaya aku pernah menuliskan cerita itu.

Sebuah photo terbingkai jelas bersama tulisan itu, aku ingat raut muka mama sama pucatnya dengan wajahku di photo itu. Pukul 8 malam, aku ingat sekali hari itu berat sekali rasanya bagi beliau melepasku ke Ibukota, dari mulai proses check in, x-ray, pemeriksaan tiket, hingga masuk ke ruangan tunggu pandangan beliau tak sekalipun lepas dariku. Andai saja pengantar boleh mendampingi calon penumpang sampai di depan pintu pesawat, aku yakin mama akan melakukannya malam itu.

Aku saat berangkat ke Ibukota untuk pertama kali, masih unyu wkwk

Namun tidak, aku harus pergi sendiri. Berbekal tekad yang menjadi nama depanku, dan kemandirian yang telah tertanam dalam setiap tugas rumah yang tak sekalipun kutinggalkan. Hari itu aku siap, memulai langkah awal berpetualang menjelajahi Bumi Allah.

Hari bergerak cepat seiring waktu, Kartu Tanda Penduduk telah terselip rapi di dalam dompetku, menandakan sudah 5 tahun pasca pengalaman itu tertanam dalam ingatanku. Kini aku bisa mengklaim perjalanan itu adalah perjalanan pertama yang membuatku jatuh cinta dengan petualangan, sampai 3 benua dan puluhan kota di Nusantara telah kujelajahi di usiaku yang ke 17 tahun.

Namun, satu yang harus kuakui, aku tak pernah mampu menjalani petualangan itu sendirian.

Sejak perjalanan pertamaku terbang ke Ibukota, tanpa orangtua, tanpa siapapun yang kukenal. Persis saat itu aku gagal menjalani petualangan itu sendirian. Karena bahkan saat menunggu masuk ke pesawat, ketika memandang gelapnya malam dibalik jendela pesawat, menghadapi ngerinya turbulensi ribuan kaki di atas laut.

Aku tak kuasa untuk tidak ‘menghadirkan’ Allah, Sang Maha Pelindung di sampingku, melalui tiap lantunan dzikir yang selalu menjadi pesan orangtuaku kemanapun petualangan membawaku pergi.

***

‘Sendiri’ bagiku hanyalah perasaan, karena sesungguhnya kalau dipikir-pikir sebagai mahluk sosial, secara harfiah kita tidak akan mampu menjadi ‘sendiri’.

Ketika aku mengerjakan project-project ilmiah yang akan dipresentasikan di berbagai belahan dunia, aku berusaha menghindari untuk bekerja sendiri. Karena selain membuatku lelah dan frustasi, pekerjaan itu tidak efektif dan tidak menyenangkan sama sekali.

Terkadang aku mencoba tak melibatkan siapapun dalam segala aktivitas projectku, kukira semua akan berjalan seperti biasa, toh aku punya pengalaman mengerjakan ini sebelumnya. Namun apa yang terjadi, berulang kali aku terjebak dalam pandanganku sendiri, mengizinkan argumen-argumen ngasal memenuhi projectku. Hingga pada akhirnya aku malah pusing sendiri, dan berpikir untuk menyerah.

Itu membuatku harus belajar lagi, lantas membenahi caraku dalam melakukan sesuatu.

Di tahun 2017, aku mengadakan Project tentang program transmigrasi penduduk, untuk mendapatkan hasil riset yang lebih baik, aku banyak bertemu dan mengobrol dengan berbagai tokoh serta kalangan masyarakat, demi mendapatkan persepektif baru tentang konsep transmigrasi itu sendiri.

Begitu pula di tahun 2018, itu tahun yang seru. Karena Projectku kala itu lebih ke arah dunia Psikologi dan Sosial, mamaku yang adalah seorang dosen di bidang tersebut menjadi mentor utamaku. Selain itu untuk menjalankan kampanye Projectku, puluhan siswa/i dari beberapa Sekolah Menengah dan anggota komunitas anak muda ikut berpartisipasi menjadi koresponden dalam riset ini, sehingga project ini bisa aku buktikan memiliki manfaat bagi orang lain.

Sehingga di tahun 2019, aku kembali berkutat dengan project ilmiah, dan lagi-lagi tertantang untuk berkolaborasi dengan orang lain. Kali ini aku mengajak beberapa teman dari Sekolah Alam Bengkulu dan Sekolah Alam Baturraden untuk mengerjakan project ini, sehingga tahun ini kami satu-satunya team delegasi Indonesia yang terdiri dari 3 Sekolah yang berbeda.

Teman-temanku dari Sekolah Alam Bengkulu dan Sekolah Alam Baturraden

Jarak hanyalah angka, whatsapp menjadi media penolong kami untuk saling berkomunikasi dan berdiskusi selama hampir 6 bulan, mengerjakan project environmental education game dan mengkapanyekannya kepada masyarakat di daerah kami masing-masing. Kerja keras kami berbuah manis, kami menjadi team delegasi tanah air yang lolos ke konferensi kepemudaan di Turki, dengan presentasi terbaik se-Indonesia.

Dari pengalaman-pengalaman ini aku mengambil kesimpulan, sendiri itu menyakitkan sekaligus berbahaya. Karena tidak hanya menyempitkan ruang bagi diri untuk mengevaluasi langkah dan mengontrol ego, kesendirian juga berpotensi melahirkan penyesalan saat kita gagal, akibat kita merasa berdiri sendiri tanpa ada siapapun di sisi.

Padahal jika kita melihat sekeliling, kita akan sadar bahwa kita tidak pernah sendiri. Ada orang tua kita dengan doa mereka, ada sahabat-sahabat kita dengan semangat mereka, dan tak lupa ada Allah dengan rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga.

“Sendiri itu bukan masalah, yang masalah adalah ketika sendiri dan kita mempermasalahkannya”

-Chandraliow, Youtuber

Salam Anak Muda Hebat Indonesia