Siapa Memimpin Siapa

Beberapa pekan yang lalu, salah satu event bazaar buku terbesar di dunia hadir di Medan. Ini merupakan kunjungan ketiganya di Indonesia, pasca menyapa para penggila Buku di Jakarta dan Surabaya. Kali ini Medan mendapat kesempatan untuk menjadi tuan rumah selanjutnya, dengan menggunakan bangunan Lapangan Udara Soewondo milik TNI-AU sebagai lokasinya.

Ikut serta di antara 350 crew yang selama 24 jam non-stop, mengurus 2 juta buku dan ratusan ribu pengunjung, membuat kegiatan ini bagiku menjadi kenangan manis di penutup tahun 2018. Sebagai pencinta sekaligus pencipta buku, kegiatan ini sudah seperti Surga untukku.

Sanking semangatnya selama event berlangsung, aku tidak pernah absen Shalat Shubuh berjamaah di Masjid Dirgantara (terletak di sebrang Bandara), sampai penjaga Masjid pun hapal dengan wajahku dan sering berbagi cemilan roti kering. Segala macam proses kulalui sebagai crew, dari mulai menghitung dan memilah buku yang datang dari container, sampai menyulap Bandara Polonia yang awalnya seperti rumah hantu hingga menjadi toko buku raksasa yang sesuai standar internasional.

Demi mengelola jutaan buku dan ratusan ribu customer dengan serangkaian dinamika teknisnya yang riwet. Big Bad Wolf Indonesia, sebagaimana sebuah Perusahaan pada umumnya, menerapkan system Team Leader di setiap section. Mulai dari bagian Floor, Cashier, hingga bagian Storage dan lain – lain, seluruhnya memiliki Team Leader yang di naungi langsung oleh Management operasional dari Indonesia dan Malaysia.

Sebagian besar crew dan Team Leader adalah para mahasiswa atau yang baru saja tamat dari studinya. Nah untuk pertama kalinya dari sejarah Big Bad Wolf, ada anak SMA, yang bahkan saat itu usianya masih beberapa hari lagi sebelum mencapai syarat minimum, lolos seleksi menjadi crew dan di rekrut menjadi Team Leader di bagian Storage.

Kaget?  But it’s happened!

Bayangkan, aku harus memimpin 10 orang yang jauh lebih tua dariku, sekaligus mengelola salah satu section yang paling memusingkan.

Yap, sekali lagi dalam catatan tugas hidupku. Aku harus naik kelas.

Aku tak pernah lupa, tiap detik yang kulalui sebagai Team Leader, adalah detik dimana aku sadar. Oke mungkin sebelum ini aku dianggap terlalu muda untuk melakukan apapun, tapi ketika aku masuk di dunia lapangan, usia hanya omong kosong.

Mengurus 2 juta buku memang bukan perkara sulit, tapi juga tidak mudah. Selama 2 minggu aku menjalankan tugasku sebagai Team Leader, kekompakan dan kedisiplinan team adalah kunci utama dari segalanya, berjam – jam berjibaku bersama timbunan buku dan customer yang membludak, membuatku harus bergerak cepat menjalankan semua tugas, menghadapi berbagai masalah teknis, lantas mendiskusikan serta menyelesaikannya dengan Management.  Sementara itu di waktu yang sama aku harus memastikan semua anggota team ku hadir tepat waktu, memaparkan info dan penjelasan Management, sekaligus menjaga kehangatan dan kebersamaan sebagai satu team.

Hari pertama menjadi Team Leader, kepalaku rasanya ingin pecah. Tapi, kebiasaanku menulis setiap hal menarik yang terjadi hari ini, membuatku malamnya bisa berfikir dan merancang solusi apa yang bisa kulakukan agar semua pekerjaan berlangsung efektif dan cepat. Walaupun tidak seluruhnya solusi yang kuberikan ampuh sehingga harus berdiskusi kembali dengan Management, tapi aku benar – benar menikmatinya.

***

‘Siapa memimpin siapa ini?’

Kukira tak lama lagi orang – orang tua akan berceletuk tentang kalimat ini. Dengan wajah bingung dan terheran – heran, karena dalam beberapa tahun lagi mereka akan menghadapi dunia yang di pimpin oleh anak – anak. Bocah – bocah kecil yang dahulu mereka pikir tidak punya pengalaman dan tidak berhak berbicata tentang dunia dan masa depan.

Big Bad Wolf secara tak langsung mengajariku pelajaran pertama untuk menjadi salah satu di antara bocah – bocah itu. Memaksaku untuk terjun ke lapangan dan melihat begitu tak pantasnya aku, kau, serta teman – teman muda di luar sana berkata. Aku tak layak untuk memimpin sesuatu, atau aku tak berhak memutuskan sesuatu dan menjalani setiap konsekuensi dalam keputusanku.

Karena kuingat salah satu idolaku pernah bilang:

“Siapapun kau, berapapun usiamu. Jika kau punya ide dan kreatifitas, kau punya tempat untuk mengabdi di negeri ini!”

Dr. Gamal Albinsaid

 

2019

Anak Indonesia untuk Indonesia