Siapa Pengkhianat Terbesar di Dunia?

Sebutkan satu kata yang paling menyakitkan jika itu terjadi pada dirimu sendiri.

Miskin?

Terhina?

Kecewa?

Atau Jomblo? (Hehehe….)

Bagiku satu kata yang paling menyakitkan di kehidupan ini, adalah: ‘Dikhianati’.

Tindakan khianat adalah bibit dari sejuta masalah. Seolah percikan api yang mampu menghanguskan segalanya. Rasa sakit dikhianati adalah rasa yang takkan pernah terucap, menimbulkan kebencian, meruntuhkan kebahagiaan, dan mengunci ruang hati agar selalu menyesal atas pengkhianatan itu.

Seorang pengkhianat adalah musuh bagi siapapun yang ia khianati, menjadi sampah yang menjijikan dan pantas di jauhi.

Tetapi bagaimana jika si pengkhianat itu tak berwujud?
Aku bicara tentang diri kita. ‘Si Pengkhianat Terbesar di Dunia’!!!

Ya, diri kita yang selama ini menjadi sahabat seperjuangan kita. Diri kita yang selalu mengikuti kemanapun roda kehidupan membawa kita, mengisi lamunan kita dengan angan besar, mengajak kita untuk berimaginasi, dan berfantasi untuk masa depan.

Tapi seiring waktu berjalan apa yang diri itu lakukan?
Dia malah membawa kita untuk sering menyerah dengan keadaan. Tersenyum licik membiarkan kita terbawa arus zaman, sibuk dengan kesenangan konyol yang tak bermanfaat. Membisikkan sesuatu yang haram, memalingkan wajah dan hati (iman) kita terhadap kuasa Allah SWT yang maha melihat lagi maha mengetahui.

Diri kita…. Adalah Pengkhianat busuk!!

Menebar benih – benih ratapan, ketika kita merasa jatuh. Menggoda kedewasaan kita, saat kita bangkit.
Cukup! Ini tidak adil! Orang – orang yang menjadi pengkhianat dan mengotori hati orang lain dapat dihukum dan diusir, lalu bagaimana dengan Si Pengkhianat ini? Dia lebih berbahaya! Dan dia adalah diri kita sendiri!

Ini bukan masalah biasa, kawan.

Ini adalah masalah bagaimana kita dapat menata hati dan fikiran agar selaras, demi tak termakan janji – janji busuk dari diri kita sendiri. Melatih mental juang dengan terus berusaha (tekun) dengan hobi/bakat yang kita punya, menciptakan kesalahan, namun menjadikannya pelajaran tanpa harus melarikan diri dari permasalahan tersebut.

Senantiasa membetengi diri dengan mendekatkan diri pada Allah, beribadah dan berdoa sebanyak – banyaknya, menanamkan semangat bahwa Allah takkan pernah meninggalkan kita, sebesar apapun halangan yang kita hadapi.

Ketika diri kita menyerang dengan penyakit – penyakit yang ia tumbuhkan di ladang hati, seperti; Kecewa, menyerah, minder, takut, khawatir, dan sebagainya.

Tutuplah kedua matamu, bayangkan bagaimana keadaan masa depan bila kau menuruti apa kata dirimu. Diam sejenak, lantas ucapakanlah:

“Ini diriku sendiri! Aku PASTI bisa melawannya!!!”

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.