Sok Bebas, Tahunya Terkurung!

Sejak perjalanan Medan-Tebing Tinggi sudah bisa dilewati menggunakan tol, Top Up e-tol adalah agenda wajib jika kami sekeluarga akan berangkat ke kampung halaman. Membawa 7 anggota keluarga dengan berbagai kebiasaan dan tingkah laku masing – masing, ditambah berbagai barang bawaan yang seakan hendak berangkat perang, penting memastikan kegiatan ‘mampir’ di suatu tempat haruslah merangkap semua kewajiban.  

Lokasi favorit kami untuk singgah jika dalam perjalanan adalah SPBU, terutama SPBU yang menyediakan minimarket dan Mushalla. Karena selain urusan shalat dan e-Tol, adik–adik yang bisa tiba–tiba rewel minta jajan, atau yang lebih parah kebelet buang air di tengah perjalanan adalah urusan yang patut diperhitungkan secara matang.

Kami tengah menunggu mama membeli snack di minimarket, saat adikku yang Kedua, Azzami memperhatikan sekelompok anak muda dibalik jendela mobil. Lantas menyikutku dan bertanya, siapa gerangan mereka.

“Mereka anak Punk,” jawabku singkat. Menjelaskan sekelompok anak muda sepantaranku yang berambut gondrong berwarna – warni mirip artis Youtube yang sedang viral akhir–akhir ini. Adikku semakin semangat memperhatikan para pemuda itu, lantas bertanya lebih jauh untuk apa mereka memakai anting, berato, naik kendaran bermotor yang lebih mirip gerobak sampah daripada karya seni dari barang bekas itu.

“Menurut mereka sih itu kebebasan,” ucapku santai, diiringi anggukan Azzami yang masih saja penasaran. “Coba abang buat kayak gitu, baru pulang ke rumah udah dicubit Mama,” katanya sambil memasang wajah usil.

Mendengar obrolan kami, papa dibalik setir mobil ikutan nimbrung. “Mereka pikir itu kebebasan?” Aku menoleh, selalu tertarik bila Papa ikutan ngobrol tentang banyak hal, apalagi dalam diskusi dadakan semacam ini.

“Coba lihat, jika mereka pikir itu sebuah kebebasan. Dengan penampilan semacam itu, apa mereka bisa bebas berteman dengan siapa saja, atau apa mereka bisa bebas masuk ke tempat – tempat umum?”

“Ya, enggak sih, paling diusir. Pandangan orang lain pasti udah buruk duluan!” Jawabku kekeh. “Nah kalau begitu, apa mau mereka? Sedangkan apa yang mereka maksud kebebasan, malah mengurung mereka dalam ketidakbebasan.”

Aku mengangguk paham, setuju sekali dengan pendapat itu. Karena sepertinya banyak anak muda yang gagal paham tentang kebebasan itu sendiri, terbawa oleh arus zaman yang membuat mereka bingung sendiri. Padahal, jika aku ditanya apakah kebebasan itu? Poin dari jawabanku adalah ini.

Pertama, kebebasan seharusnya adalah suatu yang membahagiakan dan tidak merusak diri sendiri dan orang lain. Seperti halnya aku merasa bahagia ketika diberi kebebasan untuk menulis tulisan fiksi dengan kisah dan karakter yang aku ciptakan sendiri, hingga aku merampungkan dua novelku ditahun 2016 dan 2017. Aku tidak merusak diriku ataupun mengganggu siapapun, yang jelas aku menghasilkan karya yang telah dibaca teman-teman seantereo Nusantara

Kedua, kebebasan sifatnya selamanya, tidak sementara. Contohnya ketika kita diberikan kebebasan untuk mengungkapkan pendapat kita di rumah atau di Sekolah, kebebasan itu tidak dibatasi dan kita didengar oleh orang lain. Tidak seperti anak–anak Punk tadi yang mungkin merasa bebas hanya ketika dia berada di jalanan, padahal dia tidak akan mungkin bisa sebebas itu bersama orang tua atau keluarganya yang lain.

Ketiga, kebebasan itu tidak menjerat. Ketika aku membaca buku–buku pemikiran karya Dr. Adian Husaini, disitulah aku mengenal orang–orang liberal, yang mengaku menganut paham kebebasan beragama. Padahal apabila dikaji lebih jauh, pemahaman yang mereka pikir cerdas itu malah mengurung mereka dalam jurang kebodohan dan ketidakbebasan.

Keempat, kebebasan itu tidak melepas tanggung jawab. Aku selalu diajarkan oleh kedua orang tuaku tentang pentingnya tanggung jawab, seperti tanggung jawab terhadap diri sendiri, agama, keluarga, dan juga masyarakat. Melepas tanggung jawab dengan dalih kebebasan, tentu adalah suatu yang buruk lagi hina. Karena seorang manusia terbaik adalah yang mampu memenuhi tanggung jawabnya, bukan malah menolaknya dengan alasan apapun.

So, aku pikir kebebasan adalah suatu yang sudah diberikan oleh Allah Sang Pencipta jauh sebelum kita mengenal istilah itu. Tinggal kita bagaimana cara memaknainya, dan senantiasa belajar untuk lebih taat lagi kepada-Nya. 

Salam Anak Muda HEBAT Indonesia!