Stop Jadi Kreator Berjiwa Budak!

Aku dan Andy Wijaya, Boss Bumilangit Entertainment Corpora

Untuk pertama kalinya, kedua kakiku menapak di Perpustakaan Nasional. Sekelebat rasa melingkupi hati ini, saat pandanganku mendongak, menyapu bersih bangunan raksasa setinggi 27 lantai itu yang menghiasi langit pagi ini. Persis di hadapannya, berdiri museum Bahasa dan keaksaraan yang sengaja dinaungi oleh rumah jadul ala zaman kolonial yang otentik. Siap menyambut dengan berbagai koleksi dan informasi bersejarah, mendampingi tulisan “Perpustakaan Nasional Republik Indonesia” yang terpampang jelas dengan huruf kapital sempurna, memimpin 4 jenis Bahasa dunia yang berlomba menerjemahkannya.

Beberapa kali melakoni petualangan ke Ibukota, baru kali ini aku menyalahkan diriku sendiri, mengapa tak dari dulu aku mengunjungi tempat ini. 

Beruntung acara Litbeat: Literaction Festival telah membawaku ke sini. Sebuah festival unik yang di desain dalam rangka edukasi literasi nasional. Rangkaian kelas paralel yang mengisi kegiatan ini telah mempertemukanku dengan banyak tokoh aktivis literasi nasional maupun Internasional, yang telah berjasa mengembangkan dunia literasi ke berbagai bentuk. Dari beragam bait kata dalam buku, kini bertransformasi menjadi film, musik, pertunjukan teater, komik, dan lainnya.

Kisah-kisah seru dibalik pembuatan sebuah karya memang selalu menarik untuk diikuti, apalagi mendengarkan langsung dari orang yang mengalaminya. Para kreator yang telah mengabdikan hati dan fikirannya untuk menghibur kita dengan karyanya.

Karena seorang professional tidak melulu mengikuti passion, aku belajar bahwa yang utama adalah ‘mendewakan’ proses, proses lah yang menentukan seberapa cinta kita mendalami suatu bidang. Tapi, tahukah kalian? Ada satu proses yang paling krusial yang pasti kita temukan dalam menekuni suatu bidang, yakni menentukan sebuah idealisme.

Di era yang cukup gila ini, dunia menuntut kita untuk menjadi kreator yang menciptakan hal-hal berbeda di setiap waktu. Bila tidak, kita terpaksa harus ‘ikut-ikutan’ dengan yang lain, menjelma menjadi ‘budak’ yang karyanya dinamis mengikuti zaman.

Aku bertemu dengan Alberthiene Endah dalam kelas pertama di kegiatan Litbeat. Seorang penulis yang sukses mengabadikan kisah riwayat hidup para tokoh-tokoh hebat seperti Krisdayanti, Ani Yudhoyono, dan Jusuf Kalla dalam buku-buku biografi yang terkenal begitu khas dan mengunggah. Nama beliau telah tertanam di dalam kepalaku sejak SD, saat aku tak sengaja membaca bukunya tentang penyanyi legendaris Indonesia, Chrisye, lengkap dengan kisah masa lalunya yang kelam, ditulis dengan begitu menyentuh disaat tidak ada satupun yang tahu tentang rahasia itu.

Alberthiene Endah yang kutahu selalu setia dengan genre tulisannya, di tengah isu buruknya budaya baca, serta generasi saat ini yang cenderung menyukai visual dan menolak teks. Cukup menjadi misteri mengapa buku-buku Bu Alberthiene masih menyumbangkan sejumlah royalti yang tak sedikit untuknya.

“Kita sebagai penulis tidak perlu khawatir, Mas Azzam. Kita tidak mungkin menghentikan perkembangan dunia. Namun, kualitas tidak akan bisa dikalahkan oleh teknologi dan zaman.” Kata Bu Alberthiene, menjawab pertanyaanku di kelasnya.

Aku dan Alberthiene Endah

Beliau bercerita, kariernya sebagai penulis di mulai dari pekerjaannya sebagai wartawan di majalah Femina, jaringan yang luas ke berbagai artis dan produser mengantarkannya merambah dunia film dan sinetron, hingga menjadi seorang penulis scenario yang cukup disegani di Indonesia. Dari 2 pekerjaan itu, menurut Bu Alberthiene beliau belajar 2 prinsip yang sampai sekarang di pegangnya erat.

Produktifitas dan kualitas.

Beliau mengaku dunia jurnalistik dan kepenulisan scenario telah mendidiknya menjadi seorang yang menghargai waktu dan deadline, karena dia sadar semua orang bergantung pada produktifitas atau kecepatannya menghasilkan tulisan. Namun, di sisi lain fokusnya tak boleh goyah. Sekelas Alberthiene Endah, tidak ada lagi alasan untuk baper-baperan dalam proses menulis.

Beliau bercerita pernah suatu ketika, anjing kesayangannya yang selalu menemaninya menulis meninggal, semalaman beliau berkabung, mood menulisnya anjlok bukan main. Tapi mengingat esok hari satu naskah buku terbaru harus sudah diterima penerbit, dia terpaksa segera merampungkannya tanpa kekurangan.

Kita bisa bersahabat dengan kemajuan zaman dan perubahan budaya, bila kita mampu menjaga suatu standar produktifitas dan kualitas dari karya kita. Sebagai seorang yang bekerja di industri kreatif, tak perlu kita menjadi ‘kreator berjiwa budak’ yang ikut-ikutan membuat hal tengah booming di dunia. Kita memang perlu up to date dengan kemajuan zaman, tapi keotentikan dari karya kita haruslah tetap muncul di benak orang lain.

Ini bukan sekedar omongan biasa. Di kegiatan yang sama di Perpustakaan Nasional, aku juga berkesempatan mengikuti kelas bersama para tokoh dibalik Bumilangit Entertainment Corpora, sebuah perusahaan berbasis karakter komik Indonesia karya anak bangsa.

Film ‘Gundala’ yang merupakan film superhero pertama besutan mereka, belakangan ini menjadi topik perbincangan yang hangat di kalangan penikmat film Nusantara. Terhitung sudah lebih dari 1,5 juta pasang mata telah menyaksikan aksi Sancaka, sang ‘Gundala’ di Bioskop. Hadir di tengah dominasi film-film superhero Hollywood seperti punggawa Avengers dan Justice League, memberikan tantangan sendiri bagi Bumilangit menentukan posisi, apakah mereka menjadi ‘budak’ Hollywood?  

Aku dan Imansyah Lubis, Production Manager Bumi Langit Entertainment Corpora

Menurut Andy Wijaya, Boss Bumilangit Entertainment Corporamereka tetap akan menjadikan Hollywood sebagai patokan, khusus dalam sisi bisnis dan teknologi animasi. Tapi Production Manager dari Bumilangit, Imansyah Lubis, menegaskan bahwa yang dijaga oleh perusahaannya adalah kekhasan dari kisah-kisah superhero mereka. Sebut saja karakter ‘Gundala’ yang merupakan karakter ciptaan komikus kebanggan Indonesia, Hasmi pada tahun 1969. Bukan hanya berisi nilai-nilai kepahlawanan, film tersebut juga membawa misi budaya yang merakyat demi menanamkan rasa nasionalisme kepada generasi muda tanah air. Melahirkan film ‘Gundala’ yang bagiku adalah konten lokal, rasa internasional.

So, stop jadi kreator berjiwa budak! Bahagialah berkarya untuk Indonesia!

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.