Syeikh Ismail Abdul Wahab: Dari Tanah Asahan Untuk Indonesia (Bag 2)

Langkah pertama yang dilakukan Syeikh Ismail adalah memperbaiki pendidikan. Beliau sadar pendidikan adalah jalan yang strategis dan jangka panjang untuk menyiapkan generasi dinamis di masa mendatang, serta menata kembali semangat dari pemuda-pemudi Tanjungbalai yang sudah lama mengalami berbagai penindasan oleh para penjajah.

Melalui semangat itulah, beliau mendirikan “Perguruan Gubahan Islam.” Dalam Bahasa Melayu Asahan, kata “gubah” sering dipahami sebagai pekerjaan mengubah cara paham dan memodifikasi. Maksud dari Syeikh Ismail, adalah perguruan ini diharapkan menjadi tempat pendidikan mengubah cara paham dan berfikir peserta didiknya menjadi dinamis, dan tidak cendering pasif dan menyerah.[1]

Perguruan Gubahan Islam terletak di Jalan Jenderal Sudirman Tanjungbalai, terdiri dari dua bangunan masing-masing tiga lokal, wakaf dari Almarhum H.Abd. Rahman Palahan dan H. Abd. Samad. Selain membuka kelas bagi anak-anak di siang hari, Perguruan Gubahan Islam juga secara sembunyi-sembunyi memberikan kajian malam kepada orang-orang dewasa (umum), juga kepada pemuda-pemuda dalam bidang agama dan kesadaran politik.

Syeikh Ismail memang orang yang sangat teguh pendiriannya, kendati selalu ditekan oleh penjajah terkait kajiannya ini, dia tetap melaksanakannya. Bahkan terkadang, ketika berada di situasi genting, Syeikh Ismail dan para muridnya terpaksa bertemu di Beting Kepah, salah satu pulau yang muncul ketika air surut di pesisir pantai Tanjungbalai[2].

Anwar Kalimantan, Muballigh ternama di Sumatera Utara pada dekade 60-an sampai 70-an adalah salah satu murid dari Syeikh Ismail Abdul Wahab yang menggambarkan bagaimana kehebatan Syeikh Ismail mengajar dan mempengaruhi orang lain. Kendati surat izin mengajarnya dicabut, dan Perguruan Gubahan Islam akhirnya ditutup paksa oleh pihak pemerintah Belanda sebelum usianya menginjak setahun, Syeikh Ismail tidak putus mengajar.

Rumahnya yang sederhana, menjadi ajang beliau untuk menghujamkan semangat jihad dan kecintaan pada Tanah Air dengan berapi-api kepada murid-muridnya, tanpa ada sedikitpun rasa takut ataupun gentar.

Posisi Belanda tiba-tiba tergantikan oleh negara Jepang pada 1942, di tengah situasi Indonesia semakin tidak menentu. Syeikh Ismail masih sempat menuntaskan karyanya berjudul Burhan al-Ma’rifah, sebuah karya hebat yang sukses mengantarkan nama beliau dalam jajaran Ulama terkemuka di Sumatera Utara. Pada tahun 1943 pemerintah Jepang menugaskan Buya Hamka  menjalankan musyawarah Ulama se-Sumatera Timur, Syeikh Ismail pun diundang untuk mewakili para Ulama Asahan[3].

Kekuasaan Jepang tak kalah buruknya dengan Belanda, mereka mencengkram hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat di Indonesia, terutama sisi kehidupan beragama. Ada satu kejadian ketika pasukan Jepang menginjakkan kaki di tanah Asahan, para orang-orang dewasa diwajibkan untuk sujud ke arah Matahari terbit, tak terkecuali Syeikh Ismail.

Beliau dipaksa bersujud bersama-sama dengan masyarakat lainnya di Lapangan Pasir di dekat Istana Kesultanan. Tentu saja Syeikh Ismail menolaknya dengan tegas, ia malah dengan gagah berani mengkomandokan para pemuda Tanjungbalai untuk menurunkan bendera pendudukan Jepang di Kantor Gun Sei Bu Tanjungbalai, yang membuat Jepang ketar-ketir.

Tahun 1945 Jepang dipungkul mundur dari hiruk-pikuk Perang Dunia 2, sebuah peristiwa besar yang berujung pada proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Di tahun yang sama, pada akhir Agustus, Ir.Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia yang konon menjadi cikal bakal lahirnya Dewan Perwakilan Rakyat pada masa kini.

Di bulan Oktober 1945, Syeikh Ismail Abdul Wahab terpilih menjadi ketua Komite Nasional Daerah Kabupaten Asahan Tanjungbalai (kini DPRD Asahan). Dalam masa jabatannya, Syeikh Ismail acapkali berpidato di forum-forum pemerintahan dan juga di depan rakyat Tanjungbalai. Salah satu pidatonya yang tersohor adalah ketika beliau menyampaikan fatwanya yang ikonik, dengan menularkan semangat jihad bagi rakyat Tanjungbalai, yang berbunyi.

“Bangsa yang terjajah hukumnya wajib menuntut kemerdekaannya. Barangsiapa yang berusaha dan ingin menghalangi gerakan kemerdekaan wajib dibinasakan!”[4]

Euforia kemerdekaan Indonesia tak lama beliau rasakan, 2 tahun pasca Indonesia mengukuhkan kemerdekaannya, Syeikh Ismail kembali harus pasang badan menghadapi Belanda yang melancarkan Agresi Militer pertamanya ke Indonesia pada Juli 1947.

Tanjungbalai menempati salah satu prioritas agresi Belanda di belahan Barat Indonesia. Menurut sebuah artikel sejarah militer berbahasa Belanda, pada 30 Juli 1947 tentara Belanda bermaksud menempati sebayak mungkin wilayah di Sumatera Utara, kelompok Armor dan Infanteri Belanda dari Brigade Z mulai melakukan perjalanan ke Pelabuhan Tanjung Balai dan berpacu melakukan penyelundupan secara diam-diam di tengah malam[5].  

Saat berhasil menyentuh kota Tanjungbalai pada 4 Agustus 1947, tanpa pandang bulu tepat pukul 3 sore Belanda melakukan serangan yang membabi-buta terhadap warga. Darah menggenang dimana-mana, teriakan dan tangisan masyarakat terdengar pilu di setiap penjuru kota Tanjungbalai. Terjadi peperangan yang hebat antara pasukan Belanda dengan para pejuang Tanjungbalai, sebanyak 300 orang tewas menjadi korban akan keganasan agresi Belanda itu.

Situasi yang tidak memungkinkan, membuat Syeikh Ismail bersama keluarganya mengungsi ke luar Tanjungbalai, namun dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab terhadap para murid dan masyarakat Asahan, ia memutuskan untuk kembali ke kota Tanjungbalai kendatipun telah diduduki sepenuhnya oleh Belanda.

Hari Ahad 10 Agustus 1947, Syeikh Ismail mendatangi rumahnya di Jalan Tapanuli Tanjungbalai untuk mengambil perbekalan dan memantau kondisi rakyatnya. Namun sayang, Belanda ternyata telah mengetahui posisinya, dua orang tentara Belanda tiba-tiba menghunuskan senjata di depan pintu, lantas membentak Syeikh Ismail untuk keluar dan sesuai perintah, menangkap beliau dengan tuduhan menghasut pemberontakan.

Selama tiga hari Syeikh Ismail disekap dalam pengawalan yang sangat ketat, siapapun tidak dibenarkan untuk menemuinya, bahkan ibunya yang sudah bersusah payah berusaha memohon untuk menjumpainya tidak diizinkan. Syeikh Ismail diminta untuk menarik fatwa-fatwanya tentang perang melawan pemerintah Belanda, para pejuang Hizbullah di Tanjungbalai yang sebagian besar dipimpin dan terpengaruh oleh fatwa beliau, ternyata benar-benar sangat merepotkan pasukan Belanda untuk merebut tanah Asahan.

Jawaban yang tegas dari Syeikh Ismail, membuat Belanda benar-benar kehabisan akal, tanpa berkata-kata lagi ia dipindahkan ke penjara terpencil di Pulo Simardan. Ketika ia tiba di penjara, sontak para pejuang tanah Asahan yang ditahan di penjara tersebut berebut memeluknya dengan perasaan bahagia yang luar biasa. Di depan para pemuda-pemuda didikannya itu, dengan takzim ia berkata,

“Saya merasa akan dieksekusi oleh Belanda. Kalau saudara keluar dalam keadaan selamat, sampaikan salam saya kepada teman-teman seperjuangan, supaya perjuangan diteruskan, bagaimanapun kemerdekaan kita mesti dipertahankan.”

Kemudian beliau mengambil sobekan kertas dari sebuah buku tua, lantas menulis sebuah surat (ditujukan kepada Idrus Ibrahim, pembantu setianya) dengan Bahasa arab, yang bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berbunyi,

“Hai anakku yang menuntun kebenaran, Idrus Ibrahim. Berpegang teguhlah pada kebenaran. Tiada jalan lain selain Allah. Dan tiada kehidupan selain kehidupan yang berfaedah. Sesungguhnya telah menjadi keyakinanku, hanya engkaulah penerus cita-cita. Jangan engkau mati selain cita-citamu telah lenyap (terwujud). Dan tegakkanlah kemerdekaan itu dengan bergeloranya cita-cita. Sedangkan kemerdekaan Indonesia adalah di tangan pemuda. Bangun dan berjuanglah pada tempat yang terpuji. Koreksilah dirimu sebelum dikoreksi orang. Pertolongan Allah sesungguhnya dekat. Dan sampaikanlah kepada orang-orang beriman. Sesungguhnya kepada Allah kita kembali.”

Pulo Simardan, 22 Agustus 1947[6]

Surat ini sekiranya merupakan pesan sekaligus ‘wasiat’ terakhir seorang ulama kepada umat Islam yang saat itu tengah berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Kalimat “kemerdekaan Indonesia berada di tangan pemuda” dengan tegas dan tanpa ragu-ragu disebutkan oleh Syeikh Ismail, menunjukan betapa harapannya begitu besar kepada para pemuda penerusnya untuk terus memantaskan diri, demi melindungi Ibu Pertiwi dari kedzaliman para penjajah.

Persis 2 hari setelah surat itu ditulis, pada pukul 11 waktu setempat, pasukan Belanda memanggil Syeikh Ismail. Beliau diberikan pertanyaan, apa keinginannya yang terakhir. Mendengar itu, Syeikh Ismail sudah mengetahui apa yang akan menimpanya sebentar lagi, ia hanya meminta diberi waktu untuk shalat dua rakaat

Setelah kesempatan itu diberikan, ia digiring ke suatu tempat di dalam kompleks penjara, dengan tangan yang diikat, dan selembar kain yang menutup wajahnya. Lantas, bersama seruan Allahu Akbar dan Lailahaillallah yang keluar dari mulut beliau, Tujuh peluru menembus daging ulama yang mulia itu, hingga rebahlah sekujur tubuhnya ke atas bumi Allah.

Matahari boleh jadi telah berada di atas ubun-ubun, namun saat itu seolah alam turut berkabung, tiba-tiba hujan turun di tengah teriknya matahari. Tangis para pejuang dan rakyat Tanjungbalai Asahan buncah tak tertahankan, segala memori indah bersama Syeikh Ismail seketika terngiang di dalam ingatan mereka, beliau bukan hanya pejuang, tapi juga sosok guru dan ayah yang senantiasa mengayomi dan menyemangati mereka tanpa pamrih.

Sesuai apa yang telah dimulai dan diwasiatkan oleh sosok yang mulia itu, perjuangan para pemuda Tanjungbalai untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kedaulatan politik serta militer di tanah Asahan berlanjut, menginspirasi daerah-daerah di Sumatera dan juga di luar Sumatera untuk turut melakukannya. Hingga atas kecaman PBB dan pertarungan diplomasi, pada 27 Desember 1949, Belanda menandatangani surat penyerahan kedaulatan kepada Indonesia.

Dari tanah Asahan, untuk Indonesia.

Azzam Habibullah

Depok, 22 Desember 2019


[1] Ramli Abdul Wahid, makalah disampaikan pada “Seminar Pengajuan Gelar Pahlawan Nasional Tuan Syeikh H.Ismail Abdul Wahab”, diselenggarakan Pemko Tanjungbalai, IKTA, dan IKA-IKMASTA, di Pendopo Tanjungbalai, 2017

[2]  Prof.H.Ramli Abdul Wahid.MA. dkk, Tujuh Butir Peluru Untuk Negeriku, Perdana Publishing, 2017, h. 59

[3] Hamka, Kenang-Kenangan Hidup, (Kuala Lumpur: Pustaka Antara, 1982), h.239

[4] Let. Kol. Purnawirawan Mansyur, Gerilya di Asahan-Labuhan Batu 1947-1949, h. 47

[5] Bart Luttikhuis dan Christiaan Hanrick, Voorbji Het Koloniale Perspectief: Indonesische Bronnen En Het Onderzoek Naar De Oorlog In Indonesie 1945-1949, h. 52

[6] Prof.H.Ramli Abdul Wahid.MA. dkk, Tujuh Butir Peluru Untuk Negeriku, Perdana Publishing, 2017, h. 91