Syeikh Ismail Abdul Wahab: Dari Tanah Asahan Untuk Indonesia (Bag 1)

Tanah Asahan, adalah daerah dimana Kesultanan Asahan berdiri pada tahun 1630. Sebelum beribukota di Kisaran, memori sejarah dari tanah Asahan bermula dari sebuah kota pelabuhan yang kini kita kenal sebagai Tanjungbalai. Adalah Sultan Aceh Iskandar Muda yang menjadi tokoh utama dalam hal ini, ekspedisinya menuju Johor dan Melaka pada 1612 bisa dikatakan sebagai peletak batu pertama dalam serangkaian riwayat dari Kesultanan ini.

Ketika itu rombongan Sultan Iskandar Muda tengah mampir di salah satu pesisir pantai timur Sumatera, saat itu di kawasan tersebut dapat ditemukan sejenis tumbuhan mirip Anggrek yang memiliki semacam perisai yang uniknya dapat mengasah senjata tajam bernama Asahan. [1] Pada saat yang sama, Sultan Iskandar Muda melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah ‘Tanjung’ yang mempertemukan Sungai Asahan dengan Sungai Silau. Melihat wilayah yang strategis, Sultan membangun suatu pelataran sebagai ‘Balai’ untuk menghadap, yang kemudian menjadi Kesultanan Asahan, dengan Sultan Abdul Jalil, anak Sultan Iskandar Muda diangkat sebagai Raja yang pertama.[2]

Sebagai pusat perdagangan Aceh dan Melaka, Asahan dengan Tanjungbalai nya tidak pernah sepi oleh aktivitas para pedagang antar wilayah dan negara, sehingga membuat Kesultanan Asahan menjadi kerajaan paling berkuasa di Sumatera bagian Timur di akhir abad ke 19 sampai awal abad ke 20.

Namun sejarah berkata lain, 12 September 1865 malapetaka terjadi. Kolonialisme Belanda memperluas invasinya ke daerah Asahan, mengakibatkan Kesultanan Asahan akhirnya terpaksa tunduk dan melakukan kerjasama dengan para penjajah tersebut selama ratusan tahun lamanya.

Tidak mau tinggal diam, masyarakat Asahan khususnya di Tanjung Balai mulai melakukan berbagai perjuangan merenggut kemerdekaan. Kelahiran para tokoh Ulama pejuang di Tanjungbalai semakin membuka kesempatan meraih kemenangan itu, dan salah satu tokoh Ulama paling terkemuka yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini adalah Syeikh Ismail Abdul Wahab Harahap.

***

Wajah putih para tentara Belanda semakin memerah, tatkala Haji Syeikh Ismail Abdul Wahab Harahap seorang Ulama, Politikus, sekaligus Penulis ulung tersebut untuk sekian kalinya enggan mencabut fatwanya tentang jihad fi sabilillah melawan Agresi Militer Belanda 1 sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Kabupaten Asahan. Markas T.I.V.G Belanda di Asahan menjadi saksi bisu, bagaimana tentara Belanda menangkap paksa dan mengintrogasi Syeikh Ismail selama 3 hari tanpa henti, menawarkan beragam kemudahan yang hanya berujung pada penolakan.

Kekhawatiran Belanda akan sesosok Ulama ini benar-benar menyiratkan sebuah pertanyaan penting, siapakah sebenarnya beliau? Mari kita telusuri bersama.

Syeikh Ismail Abdul Wahab Hararap lahir pada tahun 1897 di sebuah dusun bernama Kombilik yang menjadi satu-satunya informasi kelahirannya. Beliau hidup di tengah lingkungan keluarga sederhana, dengan tradisi keislaman yang kental. Sariman, ibu beliau adalah keturunan asli Melayu Tanjungbalai Asahan, sedang ayah beliau, Haji Abdul Wahab Harahap berasal dari Padang Lawas, Tapanuli Selatan yang sesuai adat menurunkan marga ‘Hararap’ kepada beliau.

Syeikh Ismail kecil dikenal sebagai anak yang baik, jujur, tekun, dan cerdas. Di samping itu, ia juga memiki sikap tegas dan konsisten dengan keyakinan yang dipegangnya. Sikap ini merupakan modal utama yang sukses mengantarkan beliau menjadi sosok yang tak hanya diseganin oleh kawan tetapi juga lawan-lawannya, baik dalam kancah perpolitikan maupun dalam ranah intelektual dan pergaulan.

Syeikh Ismail pernah menjalani pendidikan umum di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Tanjungbalai Asahan. Dalam hal pendidikan agama, Syeikh Ismail belajar dengan beberapa Ulama yang ada di kota ini, diantaranya adalah Syeikh Hasyim Tuo yang dikenal sebagai tokoh yang banyak mempengaruhi pemikiran keagamaan Syeikh Ismail, salah satunya adalah pendapat bahwasanya perjuangan mengusir penjajah adalah bentuk dari jihad fi sabilillah. [3]

Hampir setiap hari Syeikh Ismail mengikuti kajian-kajian keilmuan di rumah-rumah para ulama. Di Tanjungbalai terdapat kesan adanya pengelompokan ulama berdasarkan kitab yang diajarkannya.[4] Terdapat dua kajian kitab yang banyak dilakukan oleh masyarakat Tanjungbalai, Kitab Jawi dan Kitab Arab. Tidak seperti anak kebanyakan, Syeikh Ismail kecil memilih mengikuti kedua kelompok kajian tersebut, sehingga otoritas keilmuan dan wawasan bahasa beliau sangat luas. Sehingga nantinya dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya di dalam tulisan, beliau menggunakan dua aksara, Jawi dan Arab sekaligus.[5]

Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, pada 1925 Syeikh Ismail berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, dan memutuskan untuk mengambil pendidikan agama di sana. Selama 5 tahun, Syeikh Ismail berguru dengan para Ulama terkemuka di Tanah Suci, memperdalam pengetahun demi memuaskan hasratnya untuk mengenal Islam secara menyeluruh. Tidak sampai disitu, Syeikh Ismail kemudian bertolak ke Mesir untuk meneruskan pendidikannya di Universitas Al-Azhar, Kairo selama 6 tahun,

Dititik inilah Syeikh Ismail mulai banyak terlibat dalam berbagai pergerakan Mahasiswa untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajah Belanda. Ketika berada di Mesir, beliau dipercaya menjadi ketua Jam’iyyah al-Khairiyyah li al-Thalabah al-Azhariyah al-Jawiyah, sebuah perhimpunan mahasiswa Indonesia di Mesir yang bergerak di bidang edukasi politik. Namun sayang, atas desakan dari berbagai pihak organisasi itu akhirnya dibubarkan.

Syeikh Ismail tidak kehilangan akal, setelah organisasi itu bubar, beliau mengajak teman-teman dari tanah Melayu untuk mendirikan Persatuan Pelajar Indonesia-Malaya (Malaysia) yang bertujuan menjadi ajang konsolidasi kekuatan mahasiswa kedua bangsa untuk memperjuangkan kemerdekaan negara masing-masing.

Beliau dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki kemampuan berorasi dan menulis opini yang sangat memukau, gaung pemikirannya tentang perlawanan terhadap praktek kolonialisme-imperialisme tidak hanya berkutat pada forum diskusi organisasi saja, tetapi juga menyebar melalui tulisan-tulisannya yang diterbitkan dalam berbagai surat kabar di Indonesia dan Malaysia, seperti Dewan Islam dan Medan Islam. Menyadari tulisan-tulisannya pasti akan menimbulkan kontroversi bagi pihak-pihak tertentu, dalam sejumlah tulisannya, Syeikh Ismail dengan cerdik menyamarkan namanya sebagai “Tampiras”[6].

Selang 13 tahun kemudian, seiring mulai populernya sosok Syeikh Ismail Abdul Wahab di Indonesia khususnya di Sumatera, pergerakan beliau juga mulai tercium oleh Dinas Intelejen Politik Hindia-Belanda, Politieke Inlichtingen Diest (PID). Puncaknya, pada 28 November 1938, ketika beliau kembali menginjakkan kaki di Tanjungbalai.

Dermaga pelabuhan penuh sesak oleh lautan masyarakat Asahan yang datang menjemputnya dengan penuh suka cita, lantunan bait-bait syair Thala’ al-badru ‘alaina membungkus langit, bersama kehangatan yang membawa harapan untuk tanah Asahan. Dengan pengawasan penuh dari PID, Syeikh Ismail Abdul Wahab telah bersiap menemui babak baru perjuangannya. (Lanjut ke bagian 2)


[1] Selamat Datang di Asahan, Humas Pemda Tk II Asahan, Kisaran, tt., h. 9

[2] https:/id.wikepedia.org/wiki/Kesultanan_Asahan

[3] Prof.H.Ramli Abdul Wahid.MA. dkk, Tujuh Butir Peluru Untuk Negeriku, Perdana Publishing, 2017, h. 45

[4] Husnel Anwar Matondang, Kewajiban Tuhan (Wajib ‘Aradi): Pemikiran Kontroversial Syeikh Ismail Abd al-Wahhab, LP2IK, 2005, h. 61

[5] Prof.H.Ramli Abdul Wahid.MA. dkk, Tujuh Butir Peluru Untuk Negeriku, Perdana Publishing, 2017, h. 46

[6] Nasution., Sejarah, h.224