Ini Salahku, Lalu Apa Maumu?

Lubuk Linggau adalah kota kedua setelah Palembang yang menjadi tujuanku kali ini di Provinsi Sumatera Selatan. Ibu Lena, sang Direktur Sekolah Alam Insan Mulia (Salim) Lubuk Linggau, menghubungiku sebulan yang lalu, saat aku masih bertandang di Istanbul. Beliau mengundangku untuk berbagi pengalaman tentang perjalananku melintasi 3 benua bersama sahabat-sahabat muda di sana, sekaligus belajar bareng tentang literasi. Tanpa fikir panjang, aku langsung menyesuaikan jadwal, dan mengatakan siap buat petualangan ini. Read More

Berhentilah Kau Ganggu Hiburan Kami!

10 tahun belakangan menjadi saksi terjadinya ‘perpecahan’ di panggung hiburan antara dunia nyata dan maya, menyusul dengan munculnya media sosial online yang menjadi wadah baru bagi orang – orang kreatif di Industri ini untuk berkarya. Saat ini, tidak hanya Televisi dan Film yang menemani hari – hari kita, tapi juga buah imaginasi dan inovasi mereka di Internet. Membuat nama seperti Youtuber, Selebgram, anak Meme, dan Webtoonist sudah tak asing di telinga kita.

Aku adalah salah satu penggemar dari semua karya – karya kreatif anak Indonesia, mengingat aku juga bermain dan bekerja di dunia yang sama. Aku ingat kapan Webtoon favoritku di update, siapa Youtuber yang paling jago Cinematography-nya, Fan Page Meme paling lucu, hingga tahu siapa Selebgram Indonesia yang punya Follower terbanyak.

Memang sulit dipercaya dunia maya mampu mengakhiri monopoli dari panggung – panggung hiburan lain dalam waktu singkat. Sayangnya, trend dari hiburan online ini ternyata lamban laun dimanfaatkan pihak – pihak lain untuk menyisipkan niat buruk dan bejat.

Mari kita jujur dan lihat sejenak semua media sosial online yang kita punya, puluhan ribu akun hiburan dengan ratusan ribu konten video, meme, dan photonya yang disebar setiap hari. Sedikitnya setengah dari mereka adalah konten – konten yang berbau politik busuk dan pornografi.

Ada 2 Fan Page Facebook Meme dan Rage yang paling terkenal di Indonesia. Salah satunya rutin setidaknya sekali setiap hari menyebarkan Ilustrasi yang menggunakan bahasa vulgar dan bintang porno sebagai bagiannya. Mengundang komentar – komentar yang tidak lucu; ucapan kasar nan jorok, photo aurat, dan saling berbagi link website – website porno.

Kita beralih ke Instagram. Kemudahan bagi siapapun untuk menyebarkan video dan jepretannya, membuat akun – akun berbau mesum dan politik hoax bersuka cita. Baru – baru ini aku memblokir ratusan akun yang mengotori explore Instagramku dengan joget – joget aneh, serta kebencian dan hinaan terhadap pelaku politik, tanpa Ilmu dan bukti yang kongkrit tentang hal itu.

Belum lagi kalau kita bicara tentang Youtube. Kissing Prank dan Touch My Body Challenge adalah jenis – jenis konten video Youtube yang tidak ada pentingnya sama sekali. Namun karena ribuan like dan komentarya, akhirnya konten semacam itu terus muncul sebagai trending topic.

Jujur menemukan serangkaian realita ini membuatku takut sekaligus sedih, kebobrokan ahlak ini kurasa cukup memperlihatkan rendahnya kemampuan generasi muda menghadapi laju globalisasi. Sebab menurut data yang dilansir Keminfo, ada 80 juta pengguna Internet aktif di Indonesia dan 80% dari mereka adalah anak muda berusia 12 hingga 20 tahun keatas. Dari jumlah tersebut bisa disimpulkan yang menjadi creator dari konten – konten tersebut adalah anak muda, dan yang menikmatinya juga anak muda.

Kekacauan ini tidak dapat dihentikan, namun bisa dilawan.

Mulailah perlawanan itu dengan tekun memunculkan karya – karya kreatif kita di Dunia Maya. Janganlah mudah tergoda dan terbawa dengan kemaksiatan yang mereka janjikan, ingat history bisa dihapus tapi catatan amal buruk akan kekal abadi.

Ikutlah bersama sahabat – sahabat kita di Instagram yang mulai gencar mengirimkan konten dakwahnya, bloggers yang tanpa lelah menuliskan artikel – artikel bermanfaat, webtoonist Indonesia yang berusaha memperkenalkan budaya dan kearifan bangsa lewat goresan tangan mereka, atau para youtubers Indonesia yang tidak berhenti menyuarakan semangat membangun diri dan negara.

Untuk kalian yang mengganggu hiburan kami, berhentilah karena kami takkan diam!

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI! Read More

Mainanku, Pekerjaanku

Di era sekarang, kemajuan teknologi kian pesat, dan itu benar – benar memengaruhi bagaimana manusia berfikir dan mencari rezeki. Ketika internet meledak pada tahun 2000-an berbondong – bondong orang ingin mencoba dan menikmatinya, tetapi hanya sedikit yang berkata dalam hati, ini akan menjadi ladang rezeki yang luar biasa suatu saat nanti.

10 tahun silam, siapa yang menyangka akan ada para anak muda Indonesia seperti Chandra Liow, Edho Zell, atau Agung Hapsah bisa mendapatkan penghasilan ratusan juta, melebihi karyawan atau bahkan pegawai tinggi Bank sekalipun, hanya dengan membuat video – video kreatif di Youtube.

Siapa yang mengira hari ini begitu banyak pengusaha – pengusaha muda yang omzetnya gila – gilaan, dari bisnis kuliner, properti, hingga saham. Siapa yang bisa meramal sih, saat ini pemuda – pemuda di luar sana yang bakat olahraganya begitu mumpuni, atau kecerdasan istimewanya di bidang fashion atau computer sangat menganggumkan, diundang, dihormati dan diberi fasilitas serta uang oleh instansi Negara bahkan perusahan – perusahaan terkenal.

Kenapa mereka bisa melakukannya? Sementara sebagian anak muda masih sibuk dengan tumpukan PR dan dihantui oleh nilai – nilai ujian, masa depan mereka sudah terjamin. Read More

4 Kasta Mental Anak Muda Masa Kini: Kamu Dimana?

Coba imaginasikan Indonesia adalah sesosok manusia. Yang berhati dan berjiwa.

Lantas ia terserang penyakit, dua penyakit yang berbeda, bisul dan serangan jantung. Manakah yang paling berbahaya bagi keselamatannya?

Penyakit mana yang akan mudah membunuhnya?

Tentu, serangan jantung. Karena jantung adalah organ dalam, sesuatu yang penting lagi krusial. Performanya haruslah diperhatikan, dan kualitasnya harus terus-menerus dijaga, untuk mewujudkan mimpi sehat yang di dambakan setiap manusia.

Dari analogi ini kita bisa belajar, kawan. Bahwa Indonesia tidak akan redup sinarnya oleh bisul kecil yang berupa korupsi, perselisihan, fitnah, dan lain sebagainya.

etapi Indonesia akan hancur sehancur – hancurnya oleh serangan dalam tubuhnya, yaitu anjloknya mental anak mudanya yang tak dapat berbuat apapun!

Tetapi apakah kalian tahu, anak muda Indonesia itu memiliki berbagai macam mental yang patut di perhatikan. Beragam jenis mental tersebut, bila disusun akan menciptakan sebuah kasta yang sungguh menarik.

Mau tahu?

KASTA KEEMPAT: Mental Kampungan

Kita mulai dari kasta terbawah.

Anak muda kekinian yang menganut mental ini, adalah orang – orang yang terbawa arus zaman, orang – orang lugu yang tak terarahkan oleh siapapun. Tak punya mimpi besar untuk hidup, tak pernah sekalipun memikirkan mau jadi apa kelak nantinya.

Kukatakan, hidup mereka adalah hidup yang benar – benar hampa. Sibuk oleh pergaulan dan trend alay, terlena oleh kemaksiatan yang menjerumuskan, seolah – olah membiarkan diri menjadi sampah tak berguna.

KASTA KETIGA: Mental Pemalu

Kita lihat kasta selanjutnya.

Hidup terbilang sederhana, sanking sederhananya anak muda yang mempunyai mental seperti ini sering menyederhanakan dirinya sendiri. Tak percaya diri.

Suka sekali membuat – buat alasan untuk minder dihadapan khalayak, malu menceritakan mimpinya, malu menunjukkan karyanya. Berkelakar bahwa, ‘Malu adalah sebagian dari iman’.

Padahal jujur saja, jika mereka diam, duduk atau berdiri termangu sendirian, orang takkan ada yang peduli. Orang lain butuh bukti bahwa kita berkarya, dengan telinga dan mata mereka.

KASTA KEDUA: Mental Penyerah

Kasta ini bahkan lebih konyol lagi.

Mereka memang bukan kampungan, mereka mungkin pandai berbicara, dan juga aku akui mereka adalah anak muda yang suka menghasilkan karya. Akantetapi, semangat mereka hanya sebatas buih dilautan, saat muncul pertama kali begitu banyak dan meyakinkan, namun ketika ombak menariknya, buih itupun lenyap.

Mereka yang menyimpan mental seperti ini adalah orang yang sangat aktif ketika awal dia mempelajari sesuatu, atau ketika menciptakan karyanya pertama kali. Tetapi, itu hanya sementara, seiring waktu berjalan kemalasan dan kejenuhan menguasai mereka. Ide mereka mentok, karya mereka mandet jauh dari kata produktif, akibatnya kata menyerah membumi dalam jiwa mereka.

KASTA PERTAMA: Mental Pejuang

Kita sampai di kasta tertinggi.

Siapa gerangan yang memiliki mental ini? Siapa lagi, kalau bukan kita.

Kita yang tak pernah mau mendekati maksiat, berusaha untuk selalu istiqomah, memegang teguh ajaran agama dan kitab suci, tanpa mempedulikan pergaulan yang semakin menjadi – jadi.

Kita yang tak pernah menyepelekan diri sendiri. Mempresentasikan diri dan karya dengan bahasa santun dan lugas kepada siapa saja. Berusaha untuk membuka diri demi saran dan kritik dari orang lain.

Pemilik mental tertinggi itu adalah kita, kawan. Kita yang tak pernah menyerah apapun kondisi yang kita lalui. Semakin semangat untuk melawan, menerjang, ketika cobaan kemalasan dan kejenuhan itu datang tanpa permisi, ketika kegagalan datang dengan iri.

Fokus pada tujuan, akrab dengan proses dan pembelajaran.

Sungguh jika kita selalu pegang teguh hal itu, pasti kita akan menjadi penyelamat nyawa Indonesia kelak. Yakin? Ya, harus!

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia. Read More

Ulama Tengah Dihina. Kalian Kemana Aja Sih!?

Pada abad pertengahan, yang namanya perang, membunuh satu sama lain, menyiksa, melakukan perzinaan dan maksiat. Adalah hal yang lumrah. Kala itu yang berkuasa adalah raja. Hukum layaknya rimba dilaksanakan, yang kuat berkuasa, dan yang lemah harus pasrah.

Begitu pula pada zaman kolonial, khususunya di Indonesia. Negara kecil bernama Jepang dan Belanda menginjak – injak martabat tanah air, membantai pribumi dengan sadis, menguasai hukum dan perdagangan dengan cara menjijikan.

Kecuali para munafik yang harga dirinya dapat dibayar oleh uang dan kekuasaan. Takkan ada manusia yang tinggal diam dengan situasi seperti ini.

Salah satunya adalah para Ulama.

Ingatkah kalian bagaimana murkanya Imam Bonjol, ketika tentara Belanda membakar Masjid dan melecehkan wanita di daerahnya. KH.Ahmad Dahlan, yang telah mati – matian menegakkan ahlak dan aqidah warga Yogyakarta dari segala kesyrikan pada zaman penjajahan. Atau masih terkenangkah di hati kalian, bagaimana seoarang ulama dan sastrawan ulung, Buya Hamka, membantu lahirnya kemerdekaan dengan perjuangan fisik serta kekuatan menulisnya yang tak dapat dipungkiri. Read More

Izinkan Kami Mempermainkan Hatimu!

Ada ungkapan yang mengatakan: “Jangan pernah mempermainkan hati orang lain”.

Entah kenapa ungkapan itu selalu dikaitkan dengan hubungan, percintaan, dan kehidupan. Orang – orang lantas bilang, bahwa jika kita mempermainkan hati orang lain, hidup kita akan sempit, kita akan kena karma, dan sebaginya.

Padahal, menurutku tidak selebay itu.

Ya, aku paham perasaan itu menguasai fikiran dan jiwa. Tetapi pernahkah kau berfikir lebih jernih, bahwa dengan jago mempermainkan hati orang lain dapat mendatangkan karya yang brilian.

“Hmm…. Udah mulai ngawur lagi nih si Azzam..!”

Yee… Enak aja!

Tidak dikehidupan nyata. Tapi di dunia kepenulisan, dunia imaginasi yang bebas dan tiada batas.

Sebuah kisah atau cerita yang menjadi legenda, dibaca, diceritakan, bahkan dijadikan film dan ditonton jutaan orang di seluruh dunia. Mempunyai satu kelebihan yang sama. Read More

Siapa Pengkhianat Terbesar di Dunia?

Sebutkan satu kata yang paling menyakitkan jika itu terjadi pada dirimu sendiri.

Miskin?

Terhina?

Kecewa?

Atau Jomblo? (Hehehe….)

Bagiku satu kata yang paling menyakitkan di kehidupan ini, adalah: ‘Dikhianati’.

Tindakan khianat adalah bibit dari sejuta masalah. Seolah percikan api yang mampu menghanguskan segalanya. Rasa sakit dikhianati adalah rasa yang takkan pernah terucap, menimbulkan kebencian, meruntuhkan kebahagiaan, dan mengunci ruang hati agar selalu menyesal atas pengkhianatan itu.

Seorang pengkhianat adalah musuh bagi siapapun yang ia khianati, menjadi sampah yang menjijikan dan pantas di jauhi.

Tetapi bagaimana jika si pengkhianat itu tak berwujud? Read More