Konsekuensi Perjuangan, Mampukah Kita Bertahan!?

Demo Mahasiswa 24 September

Fajar belum lama menyelimuti langit nusantara, namun sejuknya embun dan udara tak terasa indah kala itu, mati oleh suasana kelam. Menyusul agresi militer Belanda ke Indonesia yang dengan licik mengkhianati Persetujuan Renville yang telah ditanda tangani kedua Negara beberapa bulan yang lalu, tanggal 18 Desember 1948 rakyat Ibu Pertiwi kembali dipaksa melawan, mempertahankan kemerdakaan bagaimanapun caranya. Read More

Kenyamanan Itu Mahal, Kawan!

Dibalik keseruanku menjadi Delegasi Indonesia di ajang Konferensi CEI 2017, Amerika Juli lalu. Potongan kenangan yang kuyakin takkan pernah hilang ketika berangkat ke negeri Paman Sam, adalah perjalanannya.

Menempuh jarak puluhan kilometer, singgah di Kota – kota besar dunia seperti Ghuangzhou, Los Angeles, San Fransisco, mungkin adalah segilintir dari indahnya petualangan ini. Namun, ada yang benar – benar mengejutkanku dan nyaris membuatku jingkrak – jingkrak gak keruan saat itu.

Silahkan lihat photo diatas, kawan. Disana aku (kanan) bersama guru pendamping dan salah satu temanku di tim delegasi yang sama, tengah berada di depan pesawat terbesar di dunia.

Maha karya tangan – tangan brilian para insinyur Jerman, Airbus 380!!!!

Tak hanya berlantai dua, dan berkabin luas dengan tiga kelas (VIP, Business, Economy). Berbagai fasilitas keren seperti; Bar, kasino, kios perbelanjaan, Bioskop, dan ruangan istirahat pribadi juga hadir memanjakan penumpang. Konon, benda besi raksasa ini mampu mengangkut 850 penumpang, bahkan dengan berat tubuh ratusan ton, pesawat ini masih bisa menebas samudera pasifik dengan kecepatan 900 km/jam.

That’s crazy man! Read More

Bersiap Aja Dulu, Nanti Juga Kau Ngerti

Bicara tentang bencana, adalah momok paling menakutkan yang sering kita jumpai di Negeri ini. Tanah longsor, Tsunami, Gempa bumi, Gunung meletus, atau sebut saja yang lain, Indonesia kemungkinan besar pernah mengalaminya.

Orang tuaku kebetulan adalah mantan relawan Lembaga Sosial. Belum genap sebulan pasca Tsunami maha dahsyat melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam, mereka berdua hadir di tengah – tengah kondisi memilukan di tanah tersebut. Seantereo negeri heboh bukan main, berbondong – bondong manusia dari dalam maupun luar negeri memberikan bantuan, sibuk menggotong mayat demi mayat, membersihkan reruntuhan, serta berusaha sekuat tenaga mengembalikan puing – puing jati diri dari rakyat Aceh yang diambang keputusasaan.

Mendengar cerita dari orang tuaku, mengingatkanku pada sebuah ungkapan klasik: Apapun yang terjadi diatas muka bumi, pasti mengandung makna yang dapat kita petik dan pelajari. Read More

Tak Sebatas Tanah Yang Gersang

Ketika aku masih SD, aku ingat pernah membaca sebuah Buku Ensiklopedia Sains Anak tentang Alam Nusantara. Nah, di salah satu bab di buku itu, membahas bagaimana usaha rakyat dan pemerintah untuk melestarikan dan mengembangkan Sumber Daya Alam Indonesia.

Tepat di bab tersebut, ada satu pernyataan yang sungguh menggeletik rasa keingintahuan kala itu.

“…Andai saja anak – anak Indonesia berhasil menemukan cara mengolah tanah kering…”

Yap, kita harusnya berbangga dengan Alam kita yang luar biasa indah dan mengagumkan ini. Tetapi sayangnya, kita harus lebih banyak menundukkan kepala, karena belum mampu memanfaatkan Alam tersebut dengan sepenuhnya.

***
Sempat kulupakan pernyataan itu selama beberapa tahun, sampai akhirnya aku beranjak ke Sekolah Menengah. Dan berkat bakat menulis dan meneliti yang kutempa di Sekolahku, Sekolah Alam Medan Raya, aku mendapatkan kesempatan untuk menjad delegasi Indonesia untuk ajang Konfrensi CEI 2017 (Caretakers of the Environment International) di Saleem, Oregon USA. Read More

Kutemukan Cinta Pertama Tapi Bukan Yang Terakhir

Mendapat jatah liburan selama 3 hari pasca Konfrensi Internasional CEI 2017 di USA yang kuikuti, benar – benar aku dan teman – teman dari Delegasi Indonesia manfaatkan semaksimal mungkin. Setelah sebelumnya berkeliling di ibu kota Oregon State, Portland. Sesuai kesepakatan bersama di Indonesia, kami memutuskan untuk bertualang ke Kota Seattle.

Sekilas, Kota Seattle adalah salah satu Kota Industri di Amerika Serikat. Semacam ‘Belawan-nya’ Amerika hehehe. Tapi meskipun terbilang kota Industri, suasana disana tidaklah panas, bau ataupun bising. Melainkan amat bersih, tertib, dan sejuk.

Jika iya Kota ini seamburadul kota Industri Indonesia, Raja Perusahaan Pesawat Amerika ‘Boeing’ tidak akan mau membangun pabrik pusatnya di sini, atau Pak Bill Gates tidak akan sudi mendirikan perusahaan Microsoft dan tinggal di kota ini.

Ya, kota ini memang menyimpan banyak kejutan bagiku. Selain banyak Komunitas Mahasiswa dan warga Indonesia muslim di Kota cantik nan asri ini. Seattle ternyata menyimpan tempat yang menjadi mimpi dari para pencinta Kopi modern di seluruh dunia.

The First Starbucks Store. Read More

Program Default Rakyat Indonesia, Apa Pula Itu?

Tahukah kau? Ada sesuatu yang jelas terlihat di wajah bangsa kita, sebuah jati diri yang membingungkan bangsa lain. Ini tak hanya sekedar kebiasaan umum, tetapi telah mendarah daging di setiap jiwa yang lahir di atas tanah indah ini. Semacam program default yang di anugerahkan Allah pada masyarakat Indonesia. Ciri khas sederhana namun berdampak luar biasa, yang telah membangun martabat Nusantara ratusan tahun lamanya.

***
Seperti yang kukatakan di tulisan sebelumnya, pasca berkesempatan ikut sebagai Delegasi Indonesia dalam Konfrensi Internasional CEI (Caretakers of The Environment International) 2017 di USA bulan lalu, aku mendapat pengalaman keren, berkenalan dengan anak – anak muda dari seluruh dunia.

Nah, salah satu yang kukenal baik di Konfrensi itu adalah teman – teman dari Delegasi Hong Kong. Asal kalian tahu, di Konfrensi CEI tahun ini kebetulan Hong Kong adalah Negara terbanyak mengirimkan Delegasi, lebih dari 30 siswa dari setidaknya 7 Sekolah yang berbeda.

Tetapi jangan kagum dulu pada mereka. Secerdas apapun mereka, sebrilian apapun ide penelitian mereka, atau sejago apapun mereka berpresentasi di depan para Profesor dan Ilmuwan.

Mereka tak pernah berkenalan atau bahkan bersapa satu sama lain! Read More

Indonesiaku Yang Lebay

Bertemu serta bergabung bersama anak – anak muda dari seluruh dunia, di Konfrensi CEI 2017 USA yang kuikuti awal bulan lalu. Benar – benar telah banyak membuka lebar fikiran serta inspirasiku. Gagasan demi gagasan brilian yang mereka presentasikan, sifat kedisiplinan, ketekunan, dan kegigihan yang mereka punya. Menjadi cermin diri bagiku, bahwa aku masih harus banyak belajar.

Sering mengobrol dengan teman – teman dari negara lain, mendengar cerita – cerita menarik dari negara mereka. Semakin menggelitik hatiku untuk kembali menilik kondisi Indonesia sebagai salah satu negara terbesar di dunia.
Aku punya cerita lucu. Di sela – sela padatnya jadwal Konfrensi, saat istirahat makan siang, aku bersama teman – teman dari Turki asyik mengobrol dibawah rindangan pohon.

Nah, yang namanya anak muda, kami tentu tak melulu membicarakan soal Konfrensi dan project. Dari tempat – tempat gaul, makanan khas, fashion serta mainan yang lagi trend dari negara masing – masing tak luput kami jadikan topik pembicaraan. Ngalor – ngidul, tak behenti hingga penghujung waktu istirahat.

Seketika ditengah obrolan, sesuatu tersirat di benakku, sebuah pertanyaan yang mungkin hendak ditanyakan seluruh masyarakat di Bumi Pertiwi. Read More