Tak Kuasa Membahagiakan Semua Orang

https://www.youtube.com/watch?v=OQxZj5MA-7c

Siapa yang bisa membayangkan betapa dilemanya para kritikus film tahun ini. Mulai dari awal tahun beragam film bagus penuh ambisi muncul di tengah khalayak, membius jutaan penonton di seluruh dunia, dan meraup keuntungan yang tidak pernah sedikit.

Sebagai orang yang suka belajar dan nyari inspirasi lewat visual, nonton film memang kegiatan favoritku. Tidak hanya sekedar memanjakan mata. Aku juga membaca komentar/ulasan dari semua film yang aku tonton, menganalisa scenario ceritanya, juga sesekali menjadi bahan diskusi bareng orangtua. (Alibi aja sih, biar nanti dibolehin nonton lagi hehehe…)

Karya yang berasal dari kerja keras dan kreatifitas memang patut diapresiasi. The Academy Award atau yang biasa disebut the Oscars, adalah apresiasi paling bergengsi dan didambakan dalam dunia perfilman. Selama kurang lebih 90 tahun, anugerah ini telah diberikan kepada banyak mahakarya yang telah mewarnai industry perfilman, serta tokoh-tokoh hebat dibaliknya.

Hari ini film “Joker” tengah merajai trending topic di seluruh dunia, baik maya maupun nyata semua orang tak henti-hentinya membahas dan memuji film ini. Sehingga film solo Si musuh Batman ini digadang-gadang akan mendapatkan Oscar dalam kategori paling prestisius bagi para film-maker dunia, Best Picture.

Ini membuat pesaing utamanya, “Avengers: Endgame” ketar-ketir, pasalnya film besutan Marvel yang berhasil menduduki “Film terlaris sepanjang masa” itu dianggap para kritikus film tidak pantas disandingkan dengan Joker, karena dari segi ceritanya saja sudah ‘terbantu’ dengan adanya serial film Marvel Cinematic Universe yang lain.

Kalau Bahasa kampungku, “Ya mana acik lah kek gitu!”

Yah, daripada kita berdebat, Joker atau Avengers yang bakal dapat Oscar. Kalian tahu gak sih film apa yang tahun lalu memenangkan kategori ini?

Yoi, film drama-comedy karya Peter Farrely “Green Book.”

Tema yang berbau rasis memang sensitif, namun dalam film ini semua itu dikisahkan dengan sentuhan komedi yang begitu bermakna. Green Book diangkat dari kisah nyata yang berlatar tahun 1960-an di Deep South, Amerika Serikat. Bercerita tentang persahabatan unik antara seorang ‘preman’ kulit putih, Tony Lip, dengan pianis jazz berkulit hitam, Don Shirley.

ini film nya nih!

Dikisahkan Tony tengah mencari pekerjaan baru, ia terpaksa melakukannya karena klub malam tempat dia bekerja ditutup karena renovasi. Suatu ketika dia mendengar ada seorang musisi ternama yang membutuhkan  supir untuk menemani perjalanan tour konsernya selama 8 minggu di Deep South. Di sinilah Tony pertama kali bertemu dengan Don, dan mulai bekerja sebagai supir untuknya.

Sebelum berangkat, Tony diberikan sebuah salinan buku “The Negro Motorist Green Book” oleh studio rekaman Don, isinya tak lain adalah panduan menemukan tempat berlindung yang ‘aman’ bagi wisatawan kulit hitam di seluruh wilayah Deep South.

Awalnya hubungan Tony dan Don tidak berjalan baik karena tingkah laku Tony yang kasar dan sembrono, sangat bertolak belakang dengan sikap Don yang terkesan lebih sopan dan tenang. Perbedaan karakter ini selalu mengundang gelak tawaku, kadang aku benci dengan kelakuan dari Tony yang santuy abis, tapi juga kadang tak habis fikir dengan idealisme seorang Don.

Terlepas dari perbedaan itu, Tony yang awalnya memiliki watak ‘Preman’ yang susah banget diatur, begitu kagum dengan kemampuan Don memainkan piano, hingga lambat laun dia mulai tidak suka dengan perlakuan diskriminatif orang-orang kepada Don ketika tidak berada di atas panggung.

Selama perjalanan berlangsung, Tony menulis surat kepada istri dan anak-anaknya. Don yang memang merupakan musisi, membantu Tony untuk menulis dengan kata-kata yang lebih indah, sampai-sampai membuat istri Tony terkesan dan tak menyangka menerima surat tersebut. Sebaliknya, Don yang kurang menyukai adu fisik, merasa terbantu menghadapi perilaku tak menyenangkan orang lain yang berbeda ras dengan adanya Tony di sisinya.

Ada satu scene dalam film ini yang menurutku begitu mengena di hati. Saat tanpa diduga ban mobil yang dipakai Tony dan Don, mendadak bocor di tengah perjalanan. Tony dengan sigap berusaha memperbaikinya, dan Don menunggu di luar sambil melihat hamparan ladang di sekelilingnya.

Sepanjang mata memandang Don melihat puluhan orang-orang kulit hitam sedang bekerja, bermandikan keringat dan tampak sangat letih. Don mencoba tersenyum pada mereka, namun siapa sangka semua pekerja itu menatapnya dengan tatapan aneh, tatapan itu terkesan mencemooh Don, mengingat tidak banyak orang kulit hitam yang bisa memperkerjakan orang kulit putih dan berpakaian rapi sepertinya.

Tony tak sengaja melihat kejadian itu, dia pun iseng bertanya mengapa Don tidak penah menghubungi keluarganya. Ternyata Don mengakui sejak kesuksesannya di dunia musik, dia malah merasa dijauhi oleh keluarganya, dan kini melihat dirinya yang penuh wibawa dengan jas dan dasi, orang-orang berkulit hitam lainya mulai tidak nyaman dekat dengannya. Itulah yang akhirnya membuat dirinya cenderung merasa kesepian di tengah ketenarannya.

***

Hal menarik yang bisa aku tangkap dari film ini, adalah sisi lain tentang perilaku rasisme.

Perbedaan adalah hal wajar di sekeliling kita, namun membeda-bedakan dan memaksa orang lain berubah, dengan apa yang tidak akan mungkin diubahnya adalah tindakan yang salah.

Imbasnya apa? Bukan hanya korban mendapatkan penghinaan dari masyarakat lintas ras, namun di dalam golongannya saja ketika dia berbeda sedikit, dia bahkan tak mampu bersikap harmonis dengan mereka. Yah, yang namanya penghinaan memang tak pernah berakhir baik.

Contoh sederhana, jika ada seorang anak cerdas yang dididik oleh keluarganya dengan sikap terpuji, lantas berada di lingkungan Sekolah yang berisi anak-anak malas dan badung. Mau tak mau Si anak cerdas ini pasti akan mendapatkan penghinaan. Padahal kita tahu dia anak-anak juga, dan tak mungkin dia mengubah dirinya menjadi bodoh dan bandel agar diterima oleh lingkungannya.

Kesimpulannya apa? Tidak ada gunanya kita berusaha untuk membahagiakan semua orang.

Penghinaan terhadap perbedaan yang aku sebut di atas tadi, memang tidak akan pernah hilang di sekeliling kita. Itulah yang membuatku berfikir orang-orang yang suka menghina, rasis, pembully, adalah jenis orang yang takkan musnah di dunia.

Maka bagiku bukan himbauan “Stop bullying!” yang perlu kita kampanyekan, tapi yang perlu kita tekankan pada banyak sahabat adalah “Jagalah mental kalian sebagai petarung!”

Karena semua orang punya perbedaan sekaligus kemampuan, dan semua orang bisa berada di puncak kehidupannya dengan kemampuannya itu, tanpa harus memikirkan apakah orang lain suka atau tidak. Seperti halnya Don Shirley yang walaupun mendapatkan penginaan yang sedemikian rupa, tak memengaruhi kecerdasan musiknya yang konon setara dengan komposer legandaris, Mozart.

Bahagiakan kamu aja butuh perjuangan, apalagi bahagiakan orang lain. 🙂 🙂

Salam Anak Muda Hebat Indonesia!