Tak Mau Kalah Dengan Kambing

Terletak ditengah – tengah Desa kecil di pinggiran Deli Serdang bernama Tuntungan 1, membuat siswa – siswi Sekolah Alam Medan Raya (SAMERA) tidak asing lagi dengan aktivitas rakyat seperti bertani dan berternak. Bahkan para tetangga kami punya berbagai hewan ternak, ladang luas serta pabrik – pabrik pengolahan makanan tradisional dari Ubi.

Tidak sekedar tahu, tetapi kami suka memanfaatkannya sebagai wadah pembelajaran tanpa batas. Belajar mengenai pengolahan tanah, klasifikasi hewan, social masyarakat, hingga manajemen bisnis. Tentu saja itu semua ujung – ujungnya bertujuan melatih imaginasi, kreatifitas, dan kepercayaan diri anak – anak.

Nah, ada cerita seru dimana tepat di sebelah lokasi SAMERA ada kandang Kambing milik tetangga yang penghuninya sangat lucu tingkahnya. Mengapa tidak? Para keluarga Kambing Etawa tersebut jarang mengembik sebagaimana standarnya suara Kambing atau Domba di seluruh dunia.

Maka jangan terkejut bila kau berkunjung ke SAMERA, tiba – tiba disambut suara tangis anak bayi, lolongan Serigala, atau suara orang minta tolong. Ya, itu ulah tetangga kambing kami hehehe….

Mungkin ini terdengar menggelikan, tetapi bukan anak Sekolah Alam jika tak kreatif memandang sesuatu.

Kambing hanyalah hewan, dia cuma mengikuti naluri dan percaya saja dengan apa yang ada di depannya. Sedangkan manusia punya perangkat mutakhir yang bernama otak, yang membuat manusia dapat berfikir rasional dan menimbang sesuatu.

Tetapi mengapa kita bisa kalah dengan Kambing yang mencoba sesuatu yang berbeda, mencoba sesuatu yang diluar dari kebiasaannya?

Mengapa kita selalu malas mencoba segalanya, mencoba hal yang tak pernah kita lakukan, memakai segala potensi otak kita untuk menemukan jati diri yang telah disiapkan sejak kita menyentuh Bumi ini.

Karena sehebat apapun metode menemukan bakat yang ada diluar sana, tak ubahnya analisa omong kosong jika kita berhenti mencoba dan terus mengeksplorasi hal yang ada di sekeliling kita.

Percaya atau tidak, aku pernah menjalaninya: Kesana – kemari ikut olimpiade Sains, belajar bisnis, mencicipi ilmu computer, merasakan asyiknya membuat animasi. Namun setelah bertemu dengan dunia kepenulisan, aku berhenti melakukan itu semua dan mulai nyaman menghadapi hari demi hari dengan semangat membara. Bertekad menjadi seorang penulis yang akan menginspirasi dan menghibur orang lain di seluruh dunia.

Memang itu butuh waktu, tapi itu sebanding dengan apa yang kau dapatkan nanti. Mumpung masih muda, lakukan banyak percobaan, lakukan hal yang kau suka, selama itu tidak melanggar aturan agama dan budaya, sah – sah saja!

Masa mau, sih kalah dengan Kambing?

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.