Tak Sebatas Tanah Yang Gersang

Ketika aku masih SD, aku ingat pernah membaca sebuah Buku Ensiklopedia Sains Anak tentang Alam Nusantara. Nah, di salah satu bab di buku itu, membahas bagaimana usaha rakyat dan pemerintah untuk melestarikan dan mengembangkan Sumber Daya Alam Indonesia.

Tepat di bab tersebut, ada satu pernyataan yang sungguh menggeletik rasa keingintahuan kala itu.

“…Andai saja anak – anak Indonesia berhasil menemukan cara mengolah tanah kering…”

Yap, kita harusnya berbangga dengan Alam kita yang luar biasa indah dan mengagumkan ini. Tetapi sayangnya, kita harus lebih banyak menundukkan kepala, karena belum mampu memanfaatkan Alam tersebut dengan sepenuhnya.

***
Sempat kulupakan pernyataan itu selama beberapa tahun, sampai akhirnya aku beranjak ke Sekolah Menengah. Dan berkat bakat menulis dan meneliti yang kutempa di Sekolahku, Sekolah Alam Medan Raya, aku mendapatkan kesempatan untuk menjad delegasi Indonesia untuk ajang Konfrensi CEI 2017 (Caretakers of the Environment International) di Saleem, Oregon USA.

Selain membuka forum untuk seluruh delegasi dari seluruh dunia mempresentasikan project penelitiannya tentang lingkungan hidup, CEI 2017 ternyata juga mengadakan Field Trip ke Oregon State University (OSU), salah satu Universitas terbaik di Amerika.

Tidak hanya berkenalan dengan kampus tersebut, para delegasi dari seluruh dunia juga diajak berkeliling ke lokasi – lokasi penelitian mahasiswa. Salah satu penelitian yang menurutku paling berkesan adalah, ‘Dry Farm’.

Mendengar penjelasan dari para petani mahasiswa di lokasi penelitian tersebut, membuatku bersungut – sungut sendiri, ternyata Amerika memiliki masalah tanah gersang yang lebih parah dari Indonesia. Jika Indonesia mengalami krisis tanah hanya karena kemarau, dan masih mungkin kembali subur seperti semula pada musim penghujan. Di tempat – tempat tertentu di Amerika, tanah subur bahkan telah lenyap oleh gedung – gedung pencakar langit atau menjadi barang langka sepanjang tahun akibat cuaca yang tak menentu. Menyisakan tanah – tanah rusak, gersang, dan tercemar yang bisa dikatakan tidak ada gunanya sama sekali untuk bercocok tanam.

Tidak kehabisan akal, Amerika masih punya mahasiswa – mahasiwa kreatif. Yang berkat penelitian serta kerja keras mereka, berbekal ilmu dan daya imaginasi yang hebat. Melahirkan ide brilian, pertanian tanah kering.

That’s wow!!

Tempat yang awalnya kukira lokasi pemakaman dengan deretan bedeng yang nyaris seperti tumpukan bongkahan batu, tak disangka telah sukses mengatasi permasalahan lingkungan sekaligus gizi warga Amerika, khususnya yang tinggal di Negara bagian Oregon. Dengan menghasilkan beragam sayur – mayur seperti Lobak, Wortel, Selada, Cabe, serta bunga – bunga yang cantik.

Mungkin ini adalah jawaban dari masa lampau, membuatku sadar masih banyak yang harus dipelajari jika ingin memajukan tanah air. Terutama memahami benar, bagaimana membuka luas fikiran hingga menemukan celah paling tersembunyi untuk memecahkan masalah.

Tanah yang kering, musim kemarau, krisis air bersih, tidak akan menjadi batas berhentinya akal kita anak – anak bangsa untuk terus berfikir dan berkolaborasi. Serumit apapun kendala yang dihadapi Negara ini, takkan menggoyahkan keyakinan kita bahwa selalu ada jalan keluar yang tersembunyi di dalamnya.

Tidak ada gunanya membeberkan berbagai masalah, dengan pernyataan – pernyataan yang terkesan menyerang sebelah pihak, tanpa ada solusi dari kita sendiri.

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.