Tak Sempurna, Malah Makin Mempesona

Rumah Literasi ILAeducation adalah Sekolah Zaman Now, dimana para ‘Penghuni’-nya adalah Anak usia SMA yang dibina dan dilatih menjadi seorang Future Leaders dengan potensi dan bakat yang mereka miliki.

Turut andil menjadi Fasilitator di Sekolah ini, membuat hari – hariku belakangan ini sibuk merancang beragam kegiatan yang pastinya gak ngebosenin bagi Anak – Anak Muda.

Salah satunya adalah Nobar Film tiap malam minggu.

Banyak dihuni oleh teman – teman yang bakatnya yang mengandalkan kreatifitas, seperti menggambar dan menulis, menjadi alasan bagiku untuk mencari pasokan Film terbaru di akhir pekan. Selain sebagai hiburan, juga bisa menjadi referensi dan bahan imaginasi, bukan?

Waktu Nobar di Minggu pertama kami habiskan bersama Film ‘World War Z’ karya Marc Foster, Film bergenre thriller action, mengangkat tema tentang pembasmian Virus Zombie misterius yang menyerang umat manusia di masa depan. Brad Pitt, salah satu actor terbaik Hollywood menjadi tokoh utama di Film ini. Dia memerankan sosok mantan pasukan elite PBB, Garry, yang berusaha menyelematkan keluarga dan umat manusia dari jutaan Zombie, sekaligus mencari cara agar manusia yang belum terjangkit Virus itu dapat membasmi mereka. 

Dari obrolan keesokan harinya, aku dan teman – teman Rumah Literasi yakin ini adalah Film Zombie terbaik yang pernah ada, dari animasi, acting, action, pengambilan gambar, visual, efek kejutan. Semuanya epic! Namun, ternyata ada sedikit kekurangan di sisi tokoh Garry dalam cerita tersebut.

Dia terlalu sempurna!

Dalam sebuah cerita fiksi, hal yang paling sulit dilakukan adalah menyesuaikan cerita kita dengan realita yang ada. Apalagi dari segi tokoh. Garry dalam Film ini digambarkan sebagai sosok Ayah yang begitu penyayang, cerdas, dan tangguh walau berada di tengah – tengah perang gila bersama jutaan Zombie. Apakah tidak aneh dan ganjil, jika dia benar – benar tidak punya kelemahan?

Sebuah karakter harus dikembangkan secara 3 dimensi, yaitu aspek fisik, psikologis, dan sosial.

Aspek fisik sudah pasti tidak bisa kita komentari, siapa yang meragukan fisik seorang Brad Pitt (pemeran Garry) di dunia nyata. Di aspek sosial, Garry banyak berhubungan dengan orang dari tentara, penjabat, hingga gelandangan, dari pertemanan itu terbangunlah konflik dan alur cerita yang utuh, ini juga tidak bisa dibilang jelek.

Akan tetapi di aspek psikologis, Garry muncul sebagai tokoh yang terlalu klise dan membosankan, membuat penonton masih bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin ditahun 90-an karakter semacam ini begitu laris di pasaran, namun di masa sekarang ketika para pembaca atau penonton semakin cerdas dan selera mereka semakin random, kita tak mungkin meletakkan karakter sesempurna ini lagi di cerita kita.

Lihat bagaimana penulis dan Sutradara ‘Harry Potter’, yang menggambarkan sang tokoh utama itu walupun berbakat namun juga memiliki sisi labil dan penakut ketika bertemu musuh. Atau masih ingatkah kalian dengan Film ‘How to Train Your Dragon’, yang menampilkan sosok Hiccup yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu, padahal sebagai anak Pemimpin Desa Viking, tubuh kecil dan lemahnya sering dihina.

Kesimpulannya, penikmat karyamu butuh karakter yang dekat dengan mereka, bukan sosok yang sempurna, melainkan yang ‘nyata’.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!