Tentang Rasa Takut

Kutahu Amerika adalah negara besar, negara super-power yang jaraknya dari Indonesia dibelah Samudera maha luas, Pasifik. Negara yang Islam hanya menjadi agama minoritas di dalamnya. Negara yang begitu asing, yang hanya muncul di imaginasi setiap orang, hanya hadir dalam bayang – bayang mimpi, dan hanya sesekali tersebut dalam bisikan doa.

Jujur aku tak pernah bermimpi datang kesana. Hari itu ketika mama bilang bahwa aku terpilih menjadi delegasi Indonesia untuk Konfrensi Anak Muda dunia CEI 2017 (Caretakers of the Environment International), dibalik rasa bahagiaku, aku terdiam dengan alis mengerut aneh.

Aku hanya menyalurkan hobi, menulis makalah ilmiah sebagai syarat untuk lolos sebagai delegasi adalah maiananku, dua bulan penelitian bagiku adalah waktu yang lama untuk project tersebut kurampungkan. Namun mengapa aku terpilih? Sedangkan ratusan makalan lainnya dari seluruh Indonesia, dengan topik keren, dan penelitian yang begitu serius, pupus harapan karena tereliminasi.

Kebetulan, mustahil. Keberuntungan, gak yakin.

***

3 Minggu sebelum berangkat ke Amerika , aku terbang ke Jakarta. Bertemu dengan seorang master trainer Indonesia, Kek Jamil Azzaini. Demi melatih skill presentasiku, karena setiap delegasi Konfrensi tersebut harus mampu menyampaikan project-nya dengan slide presentasi.

Aku menginap dirumah Kek Jamil, bertemu keluarganya, bahkan ikut bersama beliau bertemu dan berkenalan dengan orang – orang hebat seperti petinggi OJK, Telkomsel, hingga anggota DPR RI. Aku terus mengikuti instruksi beliau, mengerjakan tugas – tugas yang ia berikan satu per satu, selagi mempersiapkan keperluan lainnya untuk berangkat ke Amerika.

Tetapi baru seminggu berlalu, Kek Jamil mengatakan suatu hal yang benar – benar menggertak hatiku. “Kamu kok kurang senyum, Zam? Apa yang kamu takutkan?”

Aku bertanya – tanya dalam hati, apa itu benar? Apa yang kutakutkan, apa yang kupikirkan?

Ternyata aku takut mengecewakan orang lain

Aku takut mengecewakan orang tuaku

Aku takut mengecewakan negara

Dan aku lebih takut lagi mengecewakan Allah yang telah memberikan kesempatan luar biasa seperti ini.

Rasanya aku ingin menyerah, ingin sekali pulang dan melambaikan bendera putih. Bukan sebagai pengalah, namun sebagai pencundang.

Aku perlu waktu menenangkan diri, tanpa sadar diriku terbelah dua, yang satu pasrah dan yang satu lagi menyerah. Untunglah Allah masih membersihkan hatiku dan orang tuaku masih menyatukan semangatku.

Bismillah, aku memilih jalan tengah, yaitu menjalaninya dengan yang terbaik.

Kembali ku menyusun puing – puing jati diriku yang hilang, berbaikan dengan senyum, dan meminta maaf kepada kebahagiaan. Aku menjalani sisa mentoringku dengan Kek Jamil, bersama semangat baru, menuntaskan tugas serta kewajiban satu per satu tanpa mengeluh.

Saat hari besar itu tiba, aku berangkat bersama 12 delegasi lain dari Indonesia. Mengukir senyum paling lebar, menjinjing amanah istimewa, dengan kegembiraan yang menyatukan mental. Berteriak dalam hati, “Aku layak memperoleh ini!”

Doa, shalawat, dan ayat – ayat Al – Qur’an kulantunkan sebelum berpresentasi mengenai penelitianku. Alhamdulillah lisanku dilancarkan, urusanku dipermudah, dan tepuk tangan dan pujian dari seluruh dunia kudapatkan.

Satu yang ingin kusampaikan pada kalian, kalian yang ragu mencoba hal baru, membenci tantangan, hingga menolak kesempatan.

“Jangan pernah menakuti hal yang belum terjadi”

Satu – satunya yang membuatmu tak pernah maju, adalah kamu selalu melangkah mundur membiarkan dunia menertawakan. Seolah – olah menutup hati dan menghina diri sendiri.

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.