Tergila-gila Padamu!

Aku bareng teman-temanku di Vienna Opera Museum, Austria. Lokasi shooting film Mission Impossible: Rongue Nation

Berpetualang telah menjadi hobiku sejak lama, bahkan konon 18 tahun yang lalu kemunculan ‘tanda lahir’ kecil yang ada di mata kakiku merupakan sinyal bahwa raga ini suatu saat akan mengelilingi dunia. Semangat itulah yang senantiasa tertanam dalam diriku, hingga aku merasa harus melenyapkan apapun yang menghalangiku ketika berpetualang. Salah satunya, adalah mabuk perjalanan.

Adalah hal wajar jika ada orang yang ‘mabuk’ ketika menghadapi perjalanan ekstrem selama berjam-jam. Tapi beberapa tahun yang lalu, percaya atau tidak aku bisa muntah berkali-kali di dalam mobil, yang baru 10 menit bergerak.

Menghirup AC mobil dulu adalah penyiksaan bagiku, membawa serangan pusing dan mual yang benar-benar membuat petualanganku menjadi sangat menjengkelkan. Antimo, minyak kayu putih, dan beragam obat lainnya seakan sudah menyerah menghadapiku, akibatnya bukan hanya aku yang susah, tapi juga orang tuaku dan penumpang lainnya.

Keinginanku menjadi petualang sejati seolah kian meredup, seiring usahaku untuk tidak mual dalam perjalanan selalui menuai kegagalan yang menyebalkan, “Yah, kalau terus kayak gini. Gimana mau keliling dunia!?” Keluhku kala itu.

Suatu ketika keluarga kami diamanahi oleh Allah sebuah Mobil. Wajahku memerah bukan kepalang sanking bahagianya. Melihat mobil hitam itu terparkir di halaman rumah, membuat darah petualangku seakan hidup kembali.

Beberapa hari pasca Mobil itu resmi menjadi bagian dari keluarga kami, kami sekeluarga melancong ke Kota Pekanbaru, menjalani perjalanan belasan jam yang saat itu menjadi perjalanan terlama dan terjauh yang pernah kujalani saat itu.

Tanpa sadar ada suatu hal ganjil telah terjadi padaku. Aku benar-benar menikmati perjalanan itu dan tak merasakan mual sama sekali. Apa yang sudah kulakukan?

Seingatku aku cuma berfikir satu hal, “Masa udah punya Mobil, aku masih mabuk juga!”

Ya, kalimat itu memang sederhana, bahkan aku sendiri lupa kapan tepatnya aku mengatakannya. Tapi kalimat itu berhasil mengendalikan fikiranku sendiri, hingga di kemudian hari kebiasaan ‘mabuk’ dalam perjalanan itu seketika hilang sampai hari ini.

***

Bicara soal fikiran memang tiada habisnya. Berbagai macam teka-teki di balik alam bawah sadar kita jelas menyimpan misteri yang begitu menarik. Belakangan ini, aku baru mengenal sebuah kelainan mental bernama Skizofrenia. Sebuah kondisi di mana penderitanya kehilangan kendali atas fikirannya sendiri. Sulit membedakan antara kenyataan dan delusi, hingga menciptakan ruang imajinasi yang membingungkan dan menyakitkan.

Berdasarkan laporan dari Word Health Organization yang dilansir situs alodokter.com, saat ini diperkirakan lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia menderita skizofrenia. Bagaimana dengan Indonesia? Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013, diperkirakan 1-2 orang tiap 1000 penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa berat, termasuk skizofrenia.

Kesan misterius dan tak terduga dari para pengidap kelainan mental ini, seringkali menjadi inspirasi para penulis novel dan film maker untuk membuat kisah tentang mereka. Bahkan pertama kali aku mengenal penyakit ini adalah ketika membaca novel thriller karangan penulis Jerman, Sebastian Fitzek berjudul ‘Therapy’. Novel tersebut benar-benar membuatku semakin penasaran, sampai akhirnya aku menonton berbagai macam film tentang penyakit ini.

Mulai dari film lawas yang umurnya sama denganku, A Beautiful Mind. Karya epik yang dibintangi aktor kawakan Leonardo De Caprio, Shutter Island. Sampai film produksi Netflix yang sukses bikin aku merinding, Fractured. Semuanya mengangkat kisah pilu nan gila dari penderita skizofrenia. Seorang yang terjebak dalam fikiran yang kacau dan bertolak belakang dengan kenyataan, hingga berubah menjadi pembunuh berdarah dingin yang sangat berbahaya.

Info tentang Skizofrenia telah mengingatkanku, begitu berbahayanya bila fikiran dan hatiku tak dapat kukendalikan secara penuh. Selayaknya petuah dari tokoh dunia industri otomotif Amerika yang aku kutip dari buku Om Indrawan Nugroho, “Rise Above the Crowd”.

 “Apakah anda berfikir anda mampu atau tidak, kedua-duanya anda benar”

-Henry Ford (Founder Ford Motor Company)

Fikiran kitalah yang mengantarkan kita kemana kita pergi.

Andai dahulu aku tak kuasa mengendalikan fikiranku agar tak berfikir untuk ‘mabuk’ di perjalanan setelah punya mobil sendiri, tentunya aku tak bisa berkeliling dunia sampai hari ini.

Bila saja aku membiarkan fikiranku untuk menyempit dan berkata, “Aku takkan bisa berpetualang lagi dengan kondisi seperti ini,” tentu aku akan jadi pengeluh hari ini, dan larut dalam ketakutanku sendiri.

Kita harus belajar untuk menggunakan dan mengendalikan fikiran kita dengan baik, memandang sesuatu dengan optimis, dan mengawali setiap langkah besar dalam diri kita dengan mengubah fikiran kita sendiri. Jangan pula kita jadi gila hanya karena kata-kata pesimis yang tidak berarti.

Salam Anak Muda Hebat Indonesia.