“The Ging – ging Man!”

Pulang dari kegiatan Business Project by Rumah Literasi ILAeducation di Taman USU (Universitas Sumatera Utara). Aku bersama siswa/i Rumah Literasi mengadakan evaluasi. Saling bercerita tentang pengalaman selling on the street yang sengaja dirancang untuk melatih komunikasi dalam menjual dan berbisnis.

Baru kali pertama merasakan bagaimana dinamika-nya berjualan diantara kerumunan orang, membuat beberapa siswa mengeluh karena dagangannya tidak laris, dan acapkali mendapatkan penolakan.

Membawa kami menyimak suatu kisah.

***

Alkisah, ada seorang yang gagap hendak menjual sebuah buku. Melihat dari segala keterbatasannya dalam berbicara, siapapun tentunya akan berfikir dagangannya tidak akan terbeli oleh orang lain.

Tapi dia tidak peduli.

Suatu ketika dia menawarkan barang dagangannya kepada seorang bapak – bapak.

“Pak, ba…..pak ma…u be…li bu…ku?” Tanya Si pedagang gagap penuh antusias.

Bapak itu menggeleng, menolak sambil mengangkat telapak tangan.

Tak patah arang, Si pedagang gagap itu enggan beranjak dari hadapan bapak itu, terus menawarkan dagangannya.

“Maaf, saya tidak mau” Ucap bapak untuk kesekian kalinya.

Seakan tak kehilangan akal, Si pedagang gagap tadi malah membuka plastic bukunya dan membuka lembaran pertama seraya berkata, “Oh ka….lau  be…gi..tu,  bi…ar  sa…ya  ba…ca..kan bu…kunya, ya… Pak!”

Si pedagang gagap itupun mulai membaca, dengan satu tarikan nafas. “Ka…ta… Peng…an…tar…” Belum sempat Si pedagang gagap menyelesaikan kalimat pertamanya, bapak tadi melongo, terkejut bukan main. Merasa tidak tahan mendengar ocehan Si pedagang itu, bapak tadi langsung merogoh dompetnya, memberikan segepok uang, dan mengambil buku tadi.

Mengusir Si pedagang gagap yang kini bahagia dengan hasil jualannya.

***

Jika saja Si pedagang gagap ini datang ke kampung halamanku, dia pasti akan dipanggil ‘Ging -ging!’ oleh orang – orang.

“Ha? Apa itu ging – ging?”

Entah dari bahasa apa istilah ini berasal. Orang ging – ging biasa diibaratkan sebagai seorang yang memiliki tabiat keras kepala, tak pernah berfikir dua kali, dan bisa sewaktu – waktu tuli dengan ucapan orang lain. Orang ging – ging benci dengan strategi lama, kata ‘Tidak’ bahkan takut setengah mati padanya, karena spesies manusia seperti ini punya segudang hal unik, dan gila yang bisa merubahnya menjadi ‘Iya’.

Ging – ging, bisa jadi istilah yang berujung negatif. Tapi, bukan berarti dia tak mampu mengorek sisi positif dan menghindari sifat pasif.

Cerita ging – ging seorang pedagang gagap memang fiksi belaka, sekedar mengusap penat anak – anak Rumah Literasi setelah lelah menjajakan dagangan di Taman USU. Tapi, tak dapat dipungkiri antara disiplin dan kreatifitas bisa bersanding manis di segala lini pekerjaaan, mampu menghasilkan suatu yang diluar nalar, suatu yang mungkin membuat orang  garuk – garuk kepala, menghakimi prosesnya namun ternganga melihat hasilnya.

Cukup sesekali mencoba menjadi the Ging – Ging Man, kau akan tahu betapa serunya tabiat ini bila dijalankan sesuai apa yang kita tekuni. Karena tak perlu bibir itu jadi gagap, bila ingin karyamu dianggap.

 

Hidup Anak Muda Muslim Penjaga NKRI!