Tidak Ada Lagi Aristoteles Kedua

Tahun 384 SM, daerah Yunani Kuno, sebagai pusat ilmu pengetahuan dan teknologi paling mutakhir di dunia pada zaman dahulu, kedatangan kembali seorang ilmuwan hebat nan cerdas. Setelah sebelumnya Plato telah mengubah wajah ilmu pengetahuan dunia saat itu, kini muridnya muncul dan menunjukkan kemampuan yang tak kalah luar biasa, Aristoteles.

Tak hanya digadang – gadang sebagai penerus sang guru besar filsuf Yunani tersebut, Aristoteles yang konon menjadi guru Alexander Agung memiliki minat yang tinggi pada hampir seluruh ilmu, dimana beliau sangat berkontribusi dalam beragam subyek atau bidang di dunia, antara lain: Fisika, Astronomi, Biologi, Psikologi, Metafisika, logika formal, etika, politik, teori retorika, hingga seni dan sastra.

Wah, ini namanya kepinteran, ya kan?

Dengan pemahaman serta karya beliau yang begitu luas dan banyak, mengukuhkan dirinya sebagai satu dari tiga filsuf paling berpengaruh di pemikiran barat. Bahkan Ilmuwan muslim sekaligus bapak kedokteran modern yang di hormati dunia, Ibnu Sina mengagumi gagasan – gagasan dari Aristoteles dan menjadikannya sebagai rujukan pada beberapa karya beliau.

Meskipun begitu, Aristoteles tetaplah seorang manusia.

Sebagian besar teori – teori atau penjelasannya yang terkesan masuk akal (pada saat itu) dan tak banyak dipertanyakan, serta bertahan dalam pemikiran manusia selama hampir dua ribu tahun lamanya, akhirnya terbukti salah total!

Tercatat dalam sejarah, asumsi – asumsi yang dijadikan beliau sebagai dasar teori dianggap keliru oleh berbagai Ilmuwan setelahnya, termasuk Ilmuwan hebat Islam, Ibnu Rusydi. Selama ratusan tahun beragam analisis serta percobaan panjang yang dilakukan telah memukul telak ‘The master of those who know’  tersebut, serta sedikit mencoreng nama baik Aristoteles sebagai filsuf terkemuka Yunani.

***
Bukan bermaksud ikut – ikutan menyalahkan ilmu pengetahuan yang dikembangkan Uwak Aristoteles, karena jika tidak karena beliau dan juga Ilmuwan – Ilmuwan hebat lainnya, pelajaran Ilmu alam macam Fisika, Biologi, dan Astronomi tidaklah semenarik sekarang hehehe….

Belajar dari Aristoteles, Ilmuwan serba bisa, murid Akademi Plato, guru dari sang raja terhormat, pencipta pemikiran dan teori hebat yang lucunya dibantah setelah ribuan tahun. Bahwa kita tidak harus memahami segalanya. Kita tak harus cerdas dalam segala bidang, memaksa diri untuk menemukan segalanya, atau berambisi untuk mengetahui apapun yang ada di sudut dunia.

Jangan ada lagi Aristoteles kedua, cukup menjadi pakar dalam satu bidang.

Biarkan orang lain mengenang kita dalam satu sebutan. Apakah itu Pebisnis muda, Gamer, Youtuber, si jago Matematika, si jago Fisika, si jago berbicara, Pemain Bulutangkis, Pemain Sepakbola, Pemain Basket. Apapun itu, hanya satu.

Satu yang akan menjadi senjata kita dalam memenangkan peperangan terhadap perputaran zaman, yang sering tidak menentu dan selalu ingin menggilas siapapun yang tak jelas apa bakatnya, apa pula keahliannya.

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.