Ulama Tengah Dihina. Kalian Kemana Aja Sih!?

Pada abad pertengahan, yang namanya perang, membunuh satu sama lain, menyiksa, melakukan perzinaan dan maksiat. Adalah hal yang lumrah. Kala itu yang berkuasa adalah raja. Hukum layaknya rimba dilaksanakan, yang kuat berkuasa, dan yang lemah harus pasrah.

Begitu pula pada zaman kolonial, khususunya di Indonesia. Negara kecil bernama Jepang dan Belanda menginjak – injak martabat tanah air, membantai pribumi dengan sadis, menguasai hukum dan perdagangan dengan cara menjijikan.

Kecuali para munafik yang harga dirinya dapat dibayar oleh uang dan kekuasaan. Takkan ada manusia yang tinggal diam dengan situasi seperti ini.

Salah satunya adalah para Ulama.

Ingatkah kalian bagaimana murkanya Imam Bonjol, ketika tentara Belanda membakar Masjid dan melecehkan wanita di daerahnya. KH.Ahmad Dahlan, yang telah mati – matian menegakkan ahlak dan aqidah warga Yogyakarta dari segala kesyrikan pada zaman penjajahan. Atau masih terkenangkah di hati kalian, bagaimana seoarang ulama dan sastrawan ulung, Buya Hamka, membantu lahirnya kemerdekaan dengan perjuangan fisik serta kekuatan menulisnya yang tak dapat dipungkiri.

Ulama adalah orang yang cerdas, tak sedikit dari mereka bahkan mampu memahami ilmu Alam, Filsafat, Matematika, dan Politik. Mereka bukan orang yang mengincar ketenaran, kesuksesan bagi mereka adalah berhasil meneguhkan dua kata di dalam hati umatnya; Dakwah dan Jihad.

Percayalah, Ulama bukan orang sembarangan.Tetapi mengapa kita diam, saat para munafik memperlakukan mereka sebagai halangan?

Apakah cinta kita sudah mati?

Apakah hati kita telah terkunci?

Pikirkan baik – baik kondisi saat ini, kawan. Bagaimana para Ulama yang telah berjuang demi tegaknya kebenaran di atas tanah air. Di lecehkan dan dipermainkan dengan sangat keji oleh orang – orang bodoh yang tak bermoral.
Apakah itu belum cukup untuk membuatmu marah!? Dimana rasa keadailanmu!?

Ingat, kawan. Ulama adalah sahabat kita!

Sahabat adalah orang yang tidak akan pernah lepas dari hati kita. Sahabat adalah orang yang paling kita cintai, dan ia paling mengerti siapa kita. Pertanyaannya, mampukah kita menempatkan para Ulama seperti itu dalam hidup?

Tentu saja!

Temuilah siapapun Ulama di dekatmu. Entah itu di seminar, ceramah, atau segala kegaiatan yang mereka adakan. Berusahalah untuk bisa bertatap muka dengan mereka, sampaikanlah mimpimu untuk diri dan juga agamamu. Tunjukkan apa yang sudah kau lakukan untuk mencapainya, apa itu dengan sebuah karya atau gerakan perubahan. Keluarkanlah tanpa ragu segala isi hati dan pertanyaan yang terkadang menyentil kualitas imanmu.

“Yah, zam… Nanti ada yang gak suka atau ngetawain gimana…?”

Siapa yang berani, coba? Kita anak muda, jangan pernah takut salah. Toh, mengakrabkan diri dengan ulama bukan sesuatu yang keliru, bukan?

Yang perlu kita lakukan hanyalah berani. Berani menunjukkan bahwa kita anak muda yang berbeda, kita anak muda yang kekinian, yang masih peduli akan masa depan Islam dan Indonesia.

Percayalah, aku sudah sering melakukannya. Dan tahukah kalian, mereka sangat senang dan mendukung, bahkan mereka mau memberikan doa dan saran yang sangat bermanfaat.
Nah, gimana? Ilmunya dapat, berkahnya juga dapat kan!

Salam dariku untuk Anak Muda Indonesia.