Hadiah Istimewa untuk Pengkritik Imam al-Ghazali

Oleh: Azzam Habibullah — Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali atau Imam al-Ghazali, ialah salah satu Ulama yang ajaran dan karyanya kerap disalahartikan oleh sebagian orang. Kendati banyak Ulama yang menobatkannya sebagai pembaharu abad ke-5 Hijriyah (mujaddid al-mi’ah al-khamisah), ia justeru dikambinghitamkan oleh pihak lain atas jatuhnya peradaban Islam di era Perang Salib.

Setidaknya ada lima persoalan yang mendasari tudingan tersebut: Pertama, otoritas al-Ghazali dibidang hadits meragukan. Kedua, al-Ghazali enggan menyerukan ummat untuk berjihad pada Perang Salib. Ketiga, al-Ghazali “membasmi” filsafat, sehingga mencegah perkembangkan keilmuwan dalam Islam. Keempat, al-Ghazali sempat menghadapi fase “keraguan” dalam pencarian kebenaran. Dan yang kelima, pemikiran aqidah al-Ghazali yang dianggap menjustifikasi ajaran pluralisme. 

Kelima persoalan inilah yang oleh Dr. Muhammad Ardiansyah dikaji lewat buku terbaru beliau, Petunjuk Jalan untuk Kembali: Tentang Pemikiran dan Sikap Ilmiah Imam al-Ghazali. 

Dalam bab pertama, Ustadz Ardi (panggilan akrab beliau) menguraikan alasan mengapa keraguan otoritas menyasar kepada Imam al-Ghazali, juga bagaimana kita memahami dan menyikapinya dengan adil. Pertama, ulama besar ini tidak menulis satu karya pun dalam ilmu hadits. Pernyataan ini benar adanya. Akan tetapi, bila kesimpulan yang ditarik adalah al-Ghazali tidak memahami ilmu Hadits, itu kesimpulan yang gegabah. Jika melihat dari karya-karya beliau, perhatiannya terhadap ilmu hadits begitu besar, baik dalam Riwayah, Dirayah, maupun Ma’ani al-Hadits.

Kebanyakan ulama menilai al-Ghazali tidak memiliki otoritas dalam ilmu Hadits Riwayah. Padahal, dalam Ihya’,al-Ghazali mampu membuat tingkatan pemahaman seseorang terhadap Hadits, yakni al-iqtishar (yang ringkas), al-iqtishad (yang sederhana), dan al-istiqsha’ (yang panjang lebar). Menurut Ustadz Ardi, pembagian tingkatan ini tidak mungkin datang dari seseorang yang tidak mendalami kitab-kitab Hadits.

Terkait keilmuwan beliau dalam ilmu Dirayah,Ustadz Ardi mengutip kitab al-Makhul min Ta’liqat al-Ushul dan al-Mushtashfa min ‘Ilm al-Ushul. Kedua karya al-Ghazali ini membahas dengan mendalam sejumlah tema-tema ilmu Hadits Dirayah, seperti khabar mutawatir, khabar ahad, al-jarh wa al-ta’dil, syarat-syarat seorang syaikh, qari al-Haditsijazah, dan sebagainya. 

Demikian pula dalam ilmu Dirasat Ma’ani al-Hadits. Kepiawaian al-Ghazali dalam menulis sejumlah karya di berbagai bidang, seperti aqidahfiqh, akhlak, dan ushul fiqh, tentu didasari pemahaman yang mendalam terhadap makna-makna yang terkandung dalam Hadits yang dinukilnya. Dengan begitu, Ustadz Ardi menyebutkan, meski al-Ghazali nampaknya tidak mendalami ilmu rijal al-Hadits dan sifat-sifatnya, keilmuwan beliau dalam ilmu Riwayah masih masuk ke tingkat pertengahan. Sementara dalam ilmu Dirayah dan Ma’ani al-Hadits, al-Ghazali memiliki pemahaman yang sangat baik dan pantas diakui otoritasnya. 

Kedua, kuantitas hadits dalam Ihya’ Ulumiddin mengundang perhatian ulama. Kesalahpahaman sebagaian kalangan terhadap otoritas al-Ghazali di bidang Hadits bermuara pada kitab ini. Berdasarkan perhitungan dari Mahmud Said Mamduh, al-Ghazali mengutip 4848 hadits dalam kitab Ihya’. Angka ini mengejutkan, selain Ihya’ bukan kitab hadits, ia juga menyimpan lebih banyak hadits dibandingkan sejumlah kitab hadits sendiri, seperti Sunan al-Tirmidzi dan Sunan Ibn Majah.

Hal ini menjawab tudingan al-Subki, yang menyebut al-Ghazali banyak mengutip hadits dari kitab shufidan fuqaha. Padahal faktanya, tidak ada kitab tasawuf atau fiqh yang mengandung hadits sebanyak itu. Sehingga besar kemungkinan al-Ghazali mengutip langsung dari kitab-kitab hadits pokok, yang memberikan isyarat pula bahwa jumlah hadits yang demikian tidak akan mampu dikumpulkan oleh orang awan tentang hadits dan cabang-cabang ilmunya. 

Lantas bagaimana dengan kualitas haditsnya yang disebut-sebut mengandung hadits lemah (dha’if) dan palsu (mawdhu’)? Mengingat jumlah hadits yang begitu banyak, tidak mudah untuk meneliti kualitas semua hadits dalam Ihya’. Meski begitu, menyikapi keberadaan hadits dhaif harus proporsional, tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Sebab ulama Hadits sendiri tidak terlalu ketat dalam menilai sanad hadits dha’if, selama tidak berbicara masalah aqidah dan hukum (halal-haram).

Bahkan jika merujuk pada ulama hadits terkemuka, Imam Nawawi, hadits dha’if masih memiliki peluang diamalkan pada kondisi tertentu, kendati secara umum tetap harus didahulukan hadits shahih dan hasan. Terkait hadits palsu, tudingan ini berasal dari penelitian para ulama, seperti al-Hafizh Ibn al-Jawzi, al-Hafizh  al-Turtuysi, al-Subki, al-Iraqi, dan Syaikh Anas al-Syarfawi. Hasil dari kajian tersebut memang menunjukkan bahwa ada beberapa hadits yang diyakini kuat palsu, namun jumlah tersebut sangat sedikit dibandingkan kuantitas hadits yang telah disebutkan. 

Ketiga, banyak hadits yang dinukil al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin tanpa menyebutkan sanad. Kesimpulan ini terkesan terburu-buru. Jika kita membaca karya al-Ghazali, beliau sebenarnya menggunakan beberapa metode dalam menukil hadits, antara lain: Pertama, langsung mengutip matan hadits setelah menyebut Rasulullah Saw, sahabat atau dengan isyarat lain. Kedua, langsung menyebut keshahihannya. Ketiga, riwayat secara makna. Al-Mahdali menuturkan, metode yang dipakai al-Ghazali dalam Ihya’ memang metode periwayatan ahli fiqh dan tasawuf. Metode ini berbeda dengan ahli Hadits yang ditutut menyebutkan sanad hadits secara lengkap. 

Keempat, al-Ghazali belajar hadits baru menjelang akhir hayatnya. Teori ini berasal dari pernyataan Abdul Ghafir al-Farisi. Ibn Taimiyyah bahkan mengatakan al-Ghazali wafat dalam keadaan Shahih al-Bukhari ada di atas dadanya. Hanya saja, perlu diperhatikan bahwa hal ini bukan berarti al-Ghazali tidak pernah mengenal kitab itu sebelumnya. Sebab lewat buku ini, Ustadz Ardi menjabarkan dengan jelas rentetan guru al-Ghazali dalam ilmu Hadits. Jika disebut beliau mempelajari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim di akhir usianya, bisa jadi itu adalah proses penyempurnaan. Sehingga ini menunjukkan al-Ghazali selalu berusaha meningkatkan kualitas dan otoritas keilmuwannya dalam ilmu Hadits. 

Kelima, beliau mengaku pengetahuannya dalam ilmu Hadits sedikit. Pengakuan beliau ini bisa ditemukan di bagian akhir kitab Qanun al-Ta’wil. Sebagian orang cenderung memaknai kalimat ini secara tekstual, lantas melupakan aspek tawadhu dari ulama sekelas al-Ghazali. Konteks dari perkataan tersebut adalah penulisan kitab Qanun al-Ta’wil, yang merupakan jawaban al-Ghazali terhadap masalah metafisika yang ditanyakan oleh al-Imam al-Qadhi Abu Bakar Ibn al-‘Arabi.

Permasalahan tersebut bukanlah topik yang mudah. Pengkajian atas teks-teks hadits dalam kitab tersebut, dikatakan oleh Ustadz Ardi, memerlukan kaidah ilmu yang memadai agar bisa mendudukkan teks dan akal secara proporsional. Wajar jika al-Ghazali menuturkan kalimat itu sebagai bentuk kehati-hatian. Di samping itu, sang penanya bukanlah orang biasa, ia adalah murid al-Ghazali yang dikenal sebagai muhaddits besar dan pakar Ushul pada zamannya. Tidak mungkin ulama sekaliber ia menanyakan permasalahan yang sedemikian rumit kepada seorang yang awam akan Hadits. Hal ini juga menyangkut posisi tinggi al-Ghazali yang merupakan ahli fatwa (mufti) dan pembaharu (mujaddid) pada saat itu.  

Tiba pada bab kedua. Ustadz Ardi membahas tentang jihad al-Ghazali pada masa Perang Salib. Perang dua abad ini adalah salah satu peristiwa pahit yang dialami oleh ummat Islam, di mana Baitul Maqdis harus jatuh ke tangan tentara Salib. Beberapa ilmuwan menyalahkan al-Ghazali karena sikap pasifnya atas serangan ini, beliau dianggap terlalu tenggelam dengan aktivitas tasawufnya sehingga lupa kewajiban untuk menyerukan jihad. Ustadz Ardi mengutip pendapat yang bijak dari Dr. Yusuf Qardhawi, menurut ulama Mesir itu, al-Ghazali sebenarnya ikut berjihad pada masa itu, hanya saja titik berat jihadnya ialah intelektual yang merupakan permasalahan utama dalam tubuh internal ummat. 

Menurut Dr. Majid Irsan al-Kilani, dalam buku Hakadza Zhahara Jilu Shalahiddin wa Hakadza ‘Adat al-Quds, al-Ghazali juga berjuang melalui gerakana ishlah dengan metode al-insihab wa al-awdahAl-insihab artinya mengundurkan diri dari lingkungan yang penuh syubhat dan jabatan-jabatan yang menggiurkan. Kemudian berfokus pada evaluasi diri dan memperbaharui pemikirannya yang selama ini salah. Adapun al-awdah maksudnya adalah kembali ke tengah masyarakat dan menjalankan proses ishlah dengan amar ma’ruf dan nahyi mungkar. 

Selama menjalani praktik tasawufnya, al-Ghazali tidak pasif, tapi aktif mendiagnosa berbagai problematika umat. Setelah mendiagnosa masalah tersebut, al-Ghazali kemudian menjalankan ishlah dengan langkah-langkah berikut: 1.) Melahirkan generasi Ulama dan pendidik, 2.) Melahirkan sistem baru dalam bidang pendidikan dan pengajaran, 3.) Menghidupkan amar ma’ruf dan nahyi al-munkar, 4.) Mengkritik penguasa zalim, 5.) Mengkritik gaya hidup materialisme, 6.) Menyerukan keadilan sosial, 7.) Memberantas aliran sesat. Gerakan ishlah ini kemudian dilanjutkan oleh para muridnya, hingga lahir generasi gemilang yang mampu membalikkan keadaan ummat kala itu, di antaranya Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi. 

Pada bab tiga, Ustadz Ardi beralih kepada pembahasan tentang pandangan al-Ghazali terhadap filsafat. Kritik al-Ghazali terhadap filsafat kerap dituduh sebagai penyebab kemunduran dan kehancuran peradaban Islam. Kewaspadaan al-Ghazali kepada filsafat bukanlah tanpa sebab, kala itu, filsafat telah menjadi madzhab pemikiran yang memicu pertikaian antar kelompok.  Untuk itu, pasca memutuskan untuk memahami filsafat secara komprehensif, al-Ghazali kemudian memberikan sikapnya sesuai dengan padangan alam Islam.

Lewat bukunya yang menggemparkan jagad intelektual, Tahafut al-Falasifah, al-Ghazali mengkritik sikap taqlid para cendikawan terhadap para filsuf, yang lantas mendorong mereka meninggalkan ajaran agama Islam. Dalam buku yang sama, al-Ghazali juga menyusun 20 masalah yang menurutnya mengandung kontradiksi pemikiran para filosof, dari itu hanya dua masalah yang menjadi sasaran kritik beliau, yakni metafisika dan fisika. 

Menurut al-Ghazali, kelompok ahli filsafat dapat dipetakan menjadi tiga madzhab: Pertama, madzhab materialis (al-Dahriyyun). Mereka adalah filosof awal Yunani yang mengingkari adanya Pencipta dan Pengatur alam. Bagi mereka, alam ini terjadi dengan sendirinya. Al-Ghazali memasukkan madzhab ini ke dalam kategori kaum zindiq. Kedua, madzhab naturalis (al-Thabi’iyyun). Madzhab ini mendorong pengikutnya untuk rajin meniliti alam, sehingga mereka terpesona dan terpaksa mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa.

Akan tetapi, pandangan mereka yang mengatakan bahwa daya rasional manusia pun tunduk terhadap komposisi organik alam itu, membuat mereka menafikkan adanya akhirat, neraka- surga, kiamat, bahkan pahala dan dosa. Akibatnya, mereka terbuai oleh nafsu syahwatnya. Madzhab ini mendapat gelar zindiq yang serupa dengan madzhab sebelumnya. Ketiga, madzhab metafisika (al-Ilahiyyun). Ini adalah kelompok filosof generasi terakhir (Sokrates, Plato, dan Aristoteles). Secara umum, mereka menolak kedua madzhab di atas, meskipun masih belum terlepas dari kekafiran dan kebid’ahan tertentu. 

Tulisan al-Ghazali tentang filsafat memang sangat jelas dan ditopang oleh argumentasi yang solid. Meski demikian, al-Ghazali tidak menentang filsafat seluruhnya. Apa yang beliau kritik adalah pemikiran dari sejumlah filosof yang menurutnya menyimpang dalam urusan metafisika. Bahkan Cemil Akdogan, Guru Besar Sejarah Sains di ISTAC-IIUM  berpandangan bahwa kritik al-Ghazali kepada sebagian ilmu filsafat, justeru meletakkan fondasi metafisika untuk sains modern. Maka kontribusi al-Ghazali terhadap filsafat itu bukan hanya destruktif, tapi juga konstruktif.  Buktinya, setelah beliau menlis Tahafut, aktivitas fisafat tidak berhenti, dan para filosof Muslim pun muncul silih berganti, dengan karya al-Ghazali sebagai salah satu rujukan mereka. 

Dari persoalan filsafat, Ustadz Ardi beralih kepada pembahasan mengenai fase keraguan al-Ghazali. Sang Imam memang diketahui pernah mengalami krisis batin dan meragukan ilmunya. Dalam buku otobiografinya, al-Munqidz Min al-Dalal, beliau mengungkap bahwa ia sempat meragukan taqlid, sebelum kemudian melakukan hal yang sama kepada ilmu-ilmu empiris dan akal.

Pertentangan jiwa ini berlangsung dua bulan, hingga al-Ghazali merasa seperti kaum sofis. Ia lalu menelusuri pemikiran dari empat kelompok yang mewakili para pencari kebenaran di zamannya: kelompok ahli kalam (mutakallimin), kelompok ahli filsafat (falasifah), kelompok estorisme (bathiniyyah), dan kelompok penganut tasawuf (shufiyyah). Dari kelompok tersebut, ia menaruh perhatian kepada kelompok terakhir. Baginya, ilmu yang hakiki tidak bisa dicapai dengan sekedar mendengar (al-sama’) dan belajar (al-ta’allum), tapi juga perlu merasakan (al-dzawq) dan menjalaninya (al-suluk). Maka al-Ghazali menempuh jalan para sufi untuk menemukan ilmu tersebut. 

Dari sini beliau mulai mengamati dirinya. Al-Ghazali sadar bahwa ia terjebak dalam niat yang salah dan mengajar ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Pergolakan jiwa ini membuat lisan al-Ghazali terkunci, ia tenggelam dalam kesedihan mendalam, hingga tidak nafsu makan dan fisiknya melemah. Al-Ghazali memutuskan meninggalkan Baghdad menuju Syam.

Selama dua tahun menjalani proses penyembuhan, beliau berupaya menjauhi orang (‘uzlah), menyendiri (khalwat), berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah), menyucikan jiwa (tazkiyat al-nafs), membersihkan hati (tashfiyat al-qalb) dan mengingat Allah Swt (dzikrullah). Sampai akhirnya ia kembali ke Baghdad, dengan terus melanjutkan uzlah dan khalwat-nya selama 10 tahun, sehingga sampailah ia kebenaran sejati dan keyakinan hakiki yang didambakannya. Beliau pun kembali terjun di tengah ummat, kembali mengajar di Madrasah an-Nizamiyyah(walaupun hanya beberapa saat, sebelum mendirikan pondok di kampung halamannya), dan kemudianmengisi hari-harinya dengan ibadah dan kegiatan intelektual lainnya hingga akhir hayat. 

Keraguan adalah jalan menuju keyakinan dan kebenaran. Al-Ghazali menekankan hal ini dalam kitab Mi’raj al-Salikin dan Mizan al-‘Amal. Sama seperti sikapnya kepada filsafat, skeptisisme al-Ghazali juga dilatarbelakangi problem intelektual dan moral yang merasuk di tengah ummat kala itu. Kefanatikan yang merajalela membuat al-Ghazali mempertanyakan sikap taqlid kepada diri dan pemikirannya sendiri. “Rasa haus untuk mengenal hakikat segala sesuatu sudah menjadi kebiasaan dan kegemaranku, sejak awal dan masa mudaku. Ini karena karakter dan fitrah dari Allah yang dianugerahkan ke dalam tabiatku, bukan karena pilihanku dan rekayasa dariku. Sampai terlepas dariku belenggu taqlid, terpecah pula keyakinan-keyakinan yang terwariskan sejak usia muda,” tutur al-Ghazali dalam otobiografinya. 

Kendati demikian, al-Ghazali bukanlah seperti kaum skeptik yang benar-benar menolak adanya kebenaran. Keraguan itu muncul untuk mempertanyakan jalan mencapai kebenaran yang hakikat itu, bukan menafikkan tujuan itu sendiri. Di samping itu, al-Ghazali juga dikenal menulis karya-karya ilmuah yang mengandung ajaran positif tentang kebenaran, bahkan di fase keraguan itu sendiri, seperti Maqashid al-Falasifah, Tahafut al-Falasifah, Mi’yar al-Ilmi, Mizan al-Amal dan sebagainya. Karya ini menurut Ustadz Ardi berisi pandangan al-Ghazali yang bersifat penetapan (taqrir) dan juga eksplorasi yang luas (syarh), dua hal mustahil dilakukan oleh seorang yang skeptik kepada kebenaran. Ada tujuan tinggi tangan ingin dicapainya, yaitu meningkatkan keyakinan, dari ilmu al-yaqin, menjadi ‘ayn al-yaqinsampai kepada haqq al-yaqin

Pada bab pamungkas, Ustadz Ardi tiba di pembahasan tentang persoalan pandangan aqidah al-Ghazali yang disinyalir berbau Pluralisme. Anggapan ini mencuat pasca buku “Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan”karya KH Husein Muhammad tersebar ke publik. Dalam buku yang ditulis oleh Pengasuh Ponpes Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon itu, disebut bahwa Imam al-Ghazali adalah di antara Mahaguru yang berjasa menanamkan ajaran Pluralisme dalam Islam. Penulis dari buku ini nampaknya memang penganut Pluralisme tulen, mengingat argumentasi dan pernyataannya tidak berbeda jauh dengan kaum Pluralis lain. Padahal, Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2005 telah mengeluarkan fatwa bahwa ajaran Pluralisme, Sekularisme, dan Liberalisme adalah bertentangan dengan agama Islam. 

Lantas darimana Kyai tersebut menyimpulkan al-Ghazali sebagai seorang Pluralis? Ia ternyata mengutip sebagian pemikiran al-Ghazali dalam kitab Fayshal al-Tafriqah Bayn al-Islam wa al-Zandaqah. Berdasarkan kajian tersebut, Kyai Husein mencoba menjabarkan pandangan al-Ghazali tentang makna kufr dan iman. Ia mengatakan al-Ghazali telah menawarkan teori takwil (heurmenetik) yang berbeda dengan teori takwil ulama sebelumnya. Menurut al-Ghazali, esensi wujud sebuah pernyataan atau berita bisa dinyatakan benar atau salah berdasarkan lima alternatif pendekatan, yaitu Wujud Dzati, Wujud Hissi, Wujud Khayli, Wujud Aqli dan Wujud Syibhi. Kyai Husein kemudian menjelaskan, “Jika berita dari Nabi bisa diinterprertasi dalam kerangka lima pendekatan ini, menurut al-Ghazali seseorang tidak bisa dinyatakan kafir.” 

Maka demi mengantarkan pembaca pada satu kesimpulan Pluralismenya, Kyai Husein menyebutkan takwil adalah sesuatu keniscayaan, dengan begitu tidak ada lagi teks yang tidak bisa ditakwil atau hanya mempunyai makna tunggal. Meski tidak memungkiri al-Ghazali menolak gagasan ini, Kyai tersebut tetap bersikukuh bahwa sang imam dalam kitab ini berusaha menawarkan gagasan Pluralisme, Inklusivisme, dan Liberalisme. Beliau ingin melakukannya sehingga tidak satupun dari kelompok lain yang “gegabah” disebut kafir. Bahkan boleh jadi berlaku terhadap pandangan pemeluk agama-agama lain. 

Arti Fayshal al-Tafriqah Bayn al-Islam wa al-Zandaqah ialah Penentu yang Membedakan antara Islam dan Zindiq. Dari judulnya saja bisa diambil kesimpulan bahawa al-Ghazali tidak menyamakan keislaman dan kekufuran, sebagaimana pandangan Pluralisme. Latar belakang penulisan ini bisa ditelusuri dari pertanyaan seorang murid al-Ghazali, yang melaporkan bahwa gurunya dituduh sesat bahkan kafir. Demi merespon pertanyaan tersebut, al-Ghazali kemudian menulis kitab ini. Al-Ghazali secara tegas menyatakan bahwa selama seseorang meyakini dan berpegang teguh dengan dua kalimat syahadat, maka orang itu termasuk golongan yang benar dan tidak menyimpang. Sehingga kita tidak mudah memvonis seorang muslim telah penyimpang atau kafir, maupun sebaliknya, orang yang jelas kafir sebagai Muslim. 

Al-Ghazali juga memberikan batasan yang tegas, bahwa kufur adalah ketika seseorang mendustakan Nabi Saw dalam satu perkara yang disampaikannya. Sedangkan iman adalah membenarkan seluruh yang disampaikan oleh beliau. Konsep Nabi Muhammad sebagai pembeda antara batasan kafir dengan iman inilah yang dimaksud dalam kitab Fayshal al-Tafriqah. Terkait pembagian Lima wujud tadi, itu hanya berlaku kepada aliran dalam Islam sebagai acauan untuk tidak mengkfirkan satu sama lain. Ini tidak berlaku kepada kaum yang jelas kafir, seperti Yahudi, Nasrani, atau pemeluk agama lain.

Begitu pula perkataan al-Ghazali tentang rahmat Allah bagi orang-orang Romawi dan Turki – yang ternyata dikutip sebagian oleh Kyai Husein. Padahal konteks dari pernyataan al-Ghazali itu masuk ke dalam pembahasan golongan yang belum menerima Islam, namun mendapatkan rahmat dari Allah. Yang mana fenomena ini hamper mustahil ditemui di zaman yang serba terbuka saat ini. Sikap eksklusif yang diajarkan oleh al-Ghazali ini bukan berarti mengajak kita untuk memusuhi penganut agama laim, tapi justeru menjadi dorongan agar kita semangat untuk berdakwah. 

***

Hal yang menarik dari buku ini ialah cara Ustadz Dr. Muhammad Ardiansyah dalam menjabarkan sesuatu permasalahan dengan adil. Kendati telah menjawab berbagai kritik dengan ilmiah, berdasarkan keilmuwan lintas disiplin, beliau tidak menafikkan adanya aspek yang benar dalam berbagai kritik di atas. Buku ini memang terkesan singkat, bahkan dalam beberapa penjelasan ada yang sedikit menggantung dan membutuhkan dasar keilmuwan tertentu. Akantetapi, bagi saya buku ini cukup menjadi hadiah yang istimewa bagi orang yang melihat sebelah mata karya dan pemikiran al-Ghazali. Dan sebaliknya, menjadi dorongan yang kuat bagi para penggemar Sang Hujjatul Islam untuk menggali lagi setiap persoalan yang melekat pada gagasan dan kiprah sang Imam dalam khazanah keilmuwan Islam. 

Sebagaimana yang dikatakan Dr. Syamsuddin Arif dalam pengantar buku ini, Imam al-Ghazali layaknya obor yang tak pernah mati. Ketika mendengar al-Ghazali telah memantapkan petulangan intelektualnya, bahkan sebelum usia 20, saya tidak heran melihat pemikirannya masih digaungkan setelah Sembilan abab berlalu. Beliau adalah ulama sejati. Yang jika dilihat dari sikap intelektualnya yang bijak, memberikan gambaran seorang cendikiawan yang mampu menjaga kemurnian niatnya; terbuka dengan pandangan baru tanpa melepaskan “kewaspadaan intelektual” terhadapnya; senantiasa mawas diri terhadap kesalahan; sekaligus berkomitmen kepada keyakinannya. Bukan justeru terjebak dalam taqlid, dan terbuai dalam nafsu keduniaan. 

Semoga kita, pemuda-pemudi Islam dapat mewariskan pemikiran dan semangat dari Sang Hujjatul Islam!