Sang Guru

Saya bersama Om Lendo, sebelum berangkat ke Amerika tahun 2017

Oleh: Azzam Habibullah (Alumni Sekolah Alam Medan Raya dan Mahasiswa STID Mohammad Natsir) — Ketika Ibn Haitham mencapai puncak karirnya sebagai saintis dan ulama kerajaan, seorang Amir di wilayah Samman datang kepadanya, lantas mengutarakan keinginannya untuk berguru. Mendengar keinginan penguasa itu, Ibn Haitham memintanya untuk membayar 100 dinar setiap bulan. Permintaan itu disanggupi oleh sang Amir.

Meski telah membayar mahal, sang Amir tetap diperlakukan sebagaimana seorang murid. Ia tidak mendapatkan fasilitas mewah atau makan 3x sehari. Ia hanya mendapat kesempatan untuk berguru langsung dengan Ibn Haitham, tidak lebih. Tahun demi tahun ia jalani sepenuh hati. Hingga akhirnya, dengan izin Allah, Amir itu berhasil menyelesaikan pendidikannya. 

Di hari kelulusannya, Ibn Haitham memanggil penguasa itu dan berkata: Ambil seluruh hartamu yang selama ini engkau berikan kepadaku. Aku tidak membutuhkannya. Aku dahulu hanya ingin mengujimu. Melihat engkau mengeluarkan banyak harta untuk menuntut ilmu, maka aku tidak segan-segan mengerahkan segala kemampuanku untuk mengajar dan membimbingmu.”

***

Mendengar kisah ini, saya langsung teringat kepada salah satu guru dan mentor saya, Om Lendo Novo. Saya sudah mengenal Om Lendo sejak usia 5 tahun. Tahun 2006, orang tua saya yang tertarik dengan konsep Sekolah Alam, memutuskan untuk berangkat ke Ibukota (bersama saya) untuk belajar bersama beliau. Setelah berguru selama dua minggu di School of Universe (Sekolah yang didirikan Om Lendo), orang tua saya kemudian mendirikan Sekolah Alam Medan Raya di belakang rumah dan menjadikan saya sebagai “kelinci percobaan” di dalamnya. 

Om Lendo mungkin adalah salah satu tokoh yang banyak memengaruhi dan mengikuti perjalanan intelektual saya sejak awal. Menjalani pendidikan SD-SMA di Sekolah Alam, membuat konsep Sekolah ala Om Lendo ini seperti mendarah daging dalam diri saya. Begitu banyak nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan Sekolah Alam pada diri saya, seperti akhlak yang baik, kepemimpinan, kepeduliaan, kecintaan kepada alam, kreatifitas, dan sebagainya. Sehingga tidak heran, setiap diminta bercerita tentang model pendidikan yang saya jalani, peran Sekolah Alam tidak bisa dilepaskan di dalamnya. 

Misalnya dalam hal membangun pandangan yang benar terhadap alam. Saya pernah mendengar Om Lendo menjelaskan tentang pemanasan global ketika awal memasuki jenjang SD. Alih-alih menjabarkan fenomena itu sebagai gejala alam semata, beliau mengaitkan materi tersebut kepada kewajiban manusia untuk menjaga alam, sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’an. 

Jambore JSAN 2017, Surabaya

Model penyajian materi yang demikian terus diterapkan oleh para guru dan orang tua saya selama menjalani pendidikan di Sekolah Alam. Tidak ada pemisahan antara pelajaran umum dengan agama, sebab keduanya berkelindan membentuk landasan keimanan. Mungkin dulu saya tidak tahu menahu soal ini, namun kini saat daya berpikir saya semakin matang, saya sadar bahwa model pendidikan semacam ini melindungi saya dari paham “disenchantment of nature” ala sekularisme, atau pelepasan alam dari aspek spritual.

Seorang yang terpengaruh pemahaman ini, tidak lagi memandang alam sebagai entitas yang suci, sehingga dirinya bebas untuk mengeksploitasi alam dengan dalih apapun. Ini tentu mendapatkan penolakan dari ajaran Islam, sebab alam semesta adalah ayat kauniyah Allah swt, yang meskipun diperbolehkan untuk dimanfaatkan, tetap saja ada batas yang merupakan amanah dari Allah swt. Pandangan inilah yang mendasari berbagai project dan tulisan saya mengenai literasi dan lingkungan. 

Om Lendo dengan Sekolah Alamnya tidak hanya menyiapkan landasan berpikir, tapi juga bersikap. Beberapa project menuntut saya untuk terjun langsung ke masyarakat. Di sini keilmuwan saya mesti beriringan dengan akhlah yang baik: harus bisa memimpin team dengan santun, siap mendengarkan keluh kesah masyarakat, dan pastinya harus kuat menerima kritik. Kemampuan ini tentu tidak dilatih satu-dua hari. Bahkan sebelum mampu menuliskan dan mempresentasikan project-project penelitian itu seperti sekarang, saya dan teman-teman Sekolah Alam sejak dulu sudah terbiasa berjibaku dengan project-project sosial setiap akhir semester. 

Munas JSAN 2019, Jogja

Setiap kali mengobrol dengan Om Lendo, semangat saya untuk belajar dan berinovasi selalu naik ratusan kali lipat. Saya begitu terharu, ketika mengetahui bahwa Om Lendo adalah pembaca setia tulisan-tulisan saya, dan terus mengikuti perkembangan saya hingga detik akhir kehidupannya. Di tengah keraguan orang-orang dengan pilihan saya berkuliah di At-Taqwa College Depok, Om Lendo lah tokoh yang mendukung penuh keputusan itu, dan mendoakan saya menjadi menjadi cendikiawan muslim yang tangguh di masa depan.

Sebagaimana seorang Ibn Haitham yang tidak mau menerima bayaran atas hasil pengajarannya, sosok Om Lendo juga tidak pernah menuntut apa-apa atas hasil dari gagasannya. Dua dekade telah berlalu sejak pertama kali Om Lendo menggaungkan konsep Sekolah Alam, dan sampai detik terakhir kehidupannya, ia tetap berkomitmen dengan gagasannya. Beliau telah berjasa membuat ratusan anak Sekolah Alam, termasuk saya, mendapatkan pendidikan yang berkesan hingga mampu menjalani kehidupan dengan pemahaman yang baik. Semoga Allah Swt mengabulkan seluruh doa beliau, menerima segala amal shalihnya, dan menempatkan beliau di tempat yang terbaik. Amiin.